Olahraga atau Jaga Pola Makan untuk Turunkan Berat Badan? Ini Kata Ahli

Olahraga atau Jaga Pola Makan untuk Turunkan Berat Badan? Ini Kata Ahli

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Kamis, 02 Apr 2026 22:01 WIB
Healthy lifestyle and nutrition concept. Blue jeans with a measuring tape instead of a belt. Close up of jeans with a measuring tape around the waist. Top of the jeans trousers on a wooden background. Diet, sports, weight loss.
Foto: Getty Images/Gerasimov174
Medan -

Keinginan menurunkan berat badan kerap diiringi dengan rutinitas olahraga yang intens. Namun, tak sedikit orang justru merasa berat badannya tak kunjung turun meski sudah rajin berolahraga.

Lantas, mana yang sebenarnya lebih berpengaruh dalam proses defisit kalori, olahraga atau pola makan? Ahli gizi, dr. Eka Febriyanti, menjelaskan bahwa kunci utama penurunan berat badan terletak pada terciptanya defisit kalori dalam tubuh.

"Defisit kalori itu artinya kita mengurangi asupan kalori harian, biasanya sekitar 500 sampai 750 kalori dari kebutuhan normal. Ketika asupan berkurang, tubuh akan menggunakan cadangan energi seperti glikogen dan lemak," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menegaskan, penurunan berat badan tidak bisa hanya mengandalkan satu faktor semata, baik olahraga maupun pola makan.

"Bukan memilih mana yang lebih berperan antara pola makan atau olahraga, tetapi keduanya harus dijalankan bersama. Dari berbagai penelitian, kombinasi pengaturan pola makan dan olahraga adalah yang paling efektif," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Sejumlah penelitian juga mendukung hal tersebut. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Obesity menunjukkan bahwa kombinasi antara diet dan aktivitas fisik terbukti lebih efektif dalam menurunkan berat badan dibandingkan hanya mengandalkan salah satunya.

Selain itu, World Health Organization merekomendasikan aktivitas fisik rutin sebagai bagian penting dalam menjaga berat badan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan, dengan durasi ideal 150 hingga 300 menit per minggu.

Menurut dr. Eka, penurunan berat badan sejatinya merupakan bagian dari perubahan gaya hidup yang menyeluruh, bukan sekadar diet sesaat.

"Selain defisit kalori dan aktivitas fisik, faktor lain seperti cukup minum, manajemen stres, dan tidur yang cukup juga sangat berpengaruh," katanya.

Ia juga mengingatkan agar defisit kalori tidak dilakukan secara ekstrem karena dapat berdampak buruk bagi tubuh.

"Jika terlalu drastis, tubuh bisa mengalami gangguan metabolisme dan inflamasi. Karena itu, pengurangan kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap," tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar pola makan tetap mengikuti prinsip gizi seimbang agar program penurunan berat badan dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Diet yang baik itu tidak mengubah pola makan secara ekstrem, tetapi menyesuaikan kebiasaan yang ada agar lebih sehat dan berkelanjutan," tutupnya.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads