Seorang nenek bernama Nur Cahya (60) tinggal bersama anaknya yang sakit dan cucunya berumur 4 tahun di Kota Medan. Nur rela mengantri bubur sop berjam-jam karena tidak punya uang untuk membeli makanan berbuka puasa.
Nur mengaku semenjak suaminya meninggal dunia, ekonomi keluarganya merosot dan berantakan. Anaknya yang tadinya bekerja dipecat, lalu bekerja serabutan dan sekarang anaknya sakit hingga tidak ada tulang punggung keluarga.
"Semenjak bapak (suami) meninggal, rejeki pun turun. Anak yang tadi kerja disalah satu restoran ternama di Kota Medan pun dipecat, bahkan sempat kerja serabutan. Malahan sekarang harus saya rawat karena sakit," ucapnya kepada detikSumut, Rabu(25/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nenek Nur juga mengatakan, sebelum suaminya meninggal ia sempat berjualan rujak buah menggunakan sepeda dayung. Namun, tidak selamanya rejeki berpihak, ia pun harus meninggalkan pekerjaan demi menjaga sang cucu yang masih kecil.
"Saya juga dulu jualan rusak di depan rumah sakit, pakai sepeda dayung setiap harinya. Setelah bapak mati tidak berjualan lagi karena harus menjaga cucu masih berumur 4 tahun karena kedua orang tua nya bercerai. Saya punya 3 cucu, 2 orang bersama ibunya, 1 bersama saya karena tidak ada biaya menghidupi," curhatnya.
Wanita berkulit sawo matang itu, mengaku selama bulan Ramadan ia telah dua kali ke Masjid Raya untuk menunggu bubur sop yang disajikan setiap hari. Ia mengaku bubur tersebut untuk berbuka puasa bersama anak dan cucunya.
"Selama puasa ini sudah dua kali mengantri bubur, terbantu lah bisa makan bubur gratis untuk berbuka puasa bersama anak dan cucu. Untungnya saya tidak perlu memasak lagi, tinggal memasak untuk sahur itu pun kalau ada uang atau lauk yang mau dimasak. Kadang tetangga ngasih uang dan bahan makanan," katanya
Nenek Nur mengaku mendatangi Masjid Raya karena dekat dengan tempat tinggalnya, selain itu bubur sop tersedia selama bulan Ramadan sehingga menghemat pengeluaran.
"Pilih ke sini karena dekat dari rumah, tersedia bubur yang disajikan selama bulan Ramadan. Setiap sore pasti dibagikan bubur sopnya, bisa dibawa pulang asal kita membawa rantang. Bisa juga makan disini tapi tidak bisa bawa pulang," cerita nenek Nur.
Selain itu, nenek berkerudung itu pun mengaku ia tinggal di rumah milik peninggalan keluarga suaminya. Ia cerita kalau di dalam rumah tersebut, kerap kali ia harus mengambil air beras yang mendidih agar diberikan kepada cucunya sebagai pengganti susu.
"Susu cucu murah aja, cucu kan rapat dan butuh banyak biaya ya dan nggak ada uang. Jadi dikasih susu murah dan dijatah juga untuk diberi, kalau nggak ada uang ku kasih air masakan beras (tajin). Kadang cucu minta jajan, kubilang kita tidur aja ya gitu nanti kalau ada uang," ucapnya sambil mata berkaca-kaca.
Sang nenek bercerita dengan kondisi anak yang sakit dan keuangan keluarga yang tidak pasti, ia berharap ke depan bisa berjualan rujak kembali. Ia ingin bisa membantu menghidupi anaknya yang sakit dan cucunya yang masih kecil.
"Mau jualan lagi tapi biaya belum ada, karena sepeda dayung dan perlengkapan jualan sudah kejual. Dayung becak pun sudah tidak ada, semoga nanti ada uang lagi buat beli perlengkapan jualan," tandasnya.
