Wamenhaj Ungkap Pemerintah Bangun Kampung Haji di Saudi Terinspirasi Aceh

Aceh

Wamenhaj Ungkap Pemerintah Bangun Kampung Haji di Saudi Terinspirasi Aceh

Agus Setyadi - detikSumut
Minggu, 15 Feb 2026 19:29 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak saat ditemui di Asrama Haji Jakarta, Pondok Gede, Kamis (8/1/2026).
Foto: Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak. (Devi Setya/detikcom)
Banda Aceh -

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah membangun kampung haji di Arab Saudi. Pembangunan disebut terinspirasi dari tokoh Aceh Habib Bugak al-Asyi yang mewakafkan tanahnya di Makkah.

"Pak Prabowo mengutus Pak Menteri Bapenas untuk menyampaikan bahwasannya kampung haji kita itu kan sedang kita bangun. Nah, kampung haji itu kita berangkat dari mana? Dari Aceh. Dari Habib Bugak al-Asyi," kata Dahnil kepada wartawan usai meresmikan pesawat untuk edukasi jemaah haji dan umrah di Asrama Haji Aceh, Minggu (15/2/2026).

Dahnil menyebutkan, Habib Bugak dulunya juga membangun kampung haji dan sampai sekarang memberikan manfaat untuk masyarakat Tanah Rencong. Untuk tahap awal pembangunan kampung haji, pemerintah disebut telah membeli Hotel Novotel di kawasan Thakher, Makkah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, itu akan dimulai perlahan-lahan dan mudah-mudahan itu jadi legasi Pak Presiden Prabowo untuk seluruh jamaah haji kita di Indonesia seperti apa yang pernah dilakukan oleh Habib Bugak dulu," jelas Dahnil.

Selain itu, Prabowo disebut ingin memberikan kemudahan kepada jamaah umrah dan haji di Aceh. Kemenhaj juga akan mendorong revitalisasi peran maskapai nasional yakni Garuda untuk melayani jamaah umroh.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah Dek Fadh, kata Dahnil, di Aceh ada 33 ribu jemaah umrah sehingga diharapkan Garuda dapat memaksimalkan pelayanan terhadap jemaah dari Tanah Rencong. Selain itu, Garuda juga disebut akan memastikan penerbangan langsung dari Serambi Makkah ke Tanah Suci.

"PR-nya tadi yang juga jadi aspirasi masyarakat Aceh agar tiketing Garuda ke Jakarta atau ke kota-kota lain, aksesnya dipermudah dan harganya dibuat kompetitif dan rasional," jelasnya.

Wakaf Habib Bugak

Ikrar wakaf yang dilakukan Habib Bugak Al Asyi dua abad yang lalu, hasilnya masih bisa dinikmati oleh jemaah haji asal Aceh sampai saat ini. Berawal dari inisiatif Habib Bugak bahkan sejak dia belum berangkat ke Tanah Suci.

Awal mula cerita ini terjadi pada tahun 1800-an. Habib Bugak yang saat itu masih berada di Aceh, sudah memiliki gagasan untuk mengumpulkan uang, guna membeli tanah di Mekah untuk diwakafkan kepada jemaah haji.

"Selain dari dana yang dimilikinya sendiri, Habib Bugak menjadi inisiator pengumpulan dana dari masyarakat Aceh saat itu," ujar petugas Wakaf Baitul Asyi, Jamaluddin Affan, Kamis (7/8/2018) seperti dikutip dari detikNews.

Pada masa lalu perjalanan haji dilakukan menggunakan kapal laut, yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan sampai tahunan. Tak sedikit pula jemaah haji yang kemudian menetap di Arab Saudi.

"Saat itu bahkan belum ada Kerajaan Arab Saudi seperti sekarang ini. Belum ada Indonesia. Di Mekah sini masih dikuasai oleh Turki Ustmani," kata Jamal.

Ketika Habib Bugak berangkat ke Tanah Suci, dia sudah membawa bekal dana untuk wakaf. Dan begitu sampai, niatan wakaf itu direalisasikannya. Dia membeli tanah yang lokasinya kala itu persis di samping Masjidil Haram.

Di atas tanah itu didirikan penginapan untuk menampung jemaah asal Aceh. Jemaah tak lagi bingung mencari tempat tinggal selama berada di Mekah.

"Ketika Turki pergi, pemerintahan berganti. Pemerintah kala itu kemudian melakukan penataan, perapian administrasi. Setiap tanah termasuk tanah wakaf harus ada penanggungjawabnya. Harus ada satu nama yang bertanggung jawab," ujar Jamal.

Para tokoh yang ikut menyumbang dana untuk tanah wakaf itu kemudian bersepakat agar Habib Bugak menjadi penanggung jawab dari tanah itu. Habib Bugak sempat menolak.

"Habib Bugak sempat menolak karena dia tidak ingin ketika namanya digunakan sebagai penanggungjawab wakaf, dana tersebut akan diambil keluarganya. Habib Bugak murni ingin agar tanah wakaf itu digunakan untuk kepentingan jemaah Aceh," kata Jamal.

Akhirnya di depan mahkamah pencatatan wakaf, dimasukkanlah syarat mengenai penggunaan tanah wakaf itu maupun hasil uang dari pengelolaannya. Habib Bugak -- yang akhirnya setuju namanya dipakai sebagai penanggung jawab -- dalam ikrarnya menyatakan bahwa wakaf itu hanya diperuntukkan kepada jemaah asal Aceh.

"Jadi syarat itu mengikat, hanya untuk jemaah haji asal Aceh. Baik mereka yang sudah menjadi warga negara di Saudi maupun yang statusnya mukimin," tutur Jamal.

Lalu saat Masjidil Haram diperluas, tanah wakaf ini kena dampaknya. Oleh nadzir (pengelola) wakaf, uang ganti rugi digunakan membeli dua bidang tanah di kawasan yang berjarak 500-an meter dari Masjidil Haram. Tanah itu dibangun hotel oleh pengusaha dengan sistem bagi hasil. Dari situ lah, 'bonus' untuk jemaah Aceh mengalir tiap musim haji.

Petugas nadzir wakaf Syaikh Abdulatif yang kini bertanggung jawab dalam pembagian uang mengatakan, dulu tanah wakaf hanya jadi tempat penginapan sederhana. Kini sudah jadi hotel. Jadi, keuntungan bisa dibagikan ke jemaah Aceh.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 30 Persen Pembimbing Ibadah Haji 2026 Diutamakan Perempuan"
[Gambas:Video 20detik]
(agse/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads