Cerita Warga di Agam Harus Masuk Sungai untuk Antar Anak Sekolah gegara Bencana

Sumatera Barat

Cerita Warga di Agam Harus Masuk Sungai untuk Antar Anak Sekolah gegara Bencana

Ahmad Arfah Fansuri Lubis - detikSumut
Rabu, 28 Jan 2026 10:33 WIB
Cerita Warga di Agam Harus Masuk Sungai untuk Antar Anak Sekolah gegara Bencana
Foto: Jembatan Sementara Menghubungkan Jorong Subarang ke Jorong Tobo. (Ahmad Arfah/detikSumut)
Agam -

Warga di Desa Melalak Timur, Agam, Sumatera Barat harus berjalan kaki melewati sungai untuk mengantar anaknya sekolah. Hal ini terjadi karena bencana alam yang sempat melanda wilayah mereka membuat jembatan antar dusun hancur.

Cerita itu dibagikan salah seorang warga Jorong (Dusun) Subarang, Desma Watrina. Dia sempat beberapa hari harus masuk ke sungai untuk menyeberang mengantar anak yang sekolah di Jorong Tobo.

"Lebih dari seminggu (mengantar anak melalui sungai)," ujar Desma, Rabu (28/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desma bercerita, sungai di wilayahnya itu awalnya kecil. Namun terjadi banjir bandang pada November 2025 lalu yang membuat ukuran sungainya menjadi lebih besar.

Dia mengaku takut saat melewati sungai dengan ketinggian air selututnya itu. Apalagi jika kondisi hujan.

ADVERTISEMENT

"Takut, kadang hujan juga. Tapi harus dilalui karena anak mau sekolah," ungkapnya.

Jembatan Sementara Dibangun

Saat ini sudah ada jembatan sementara yang dibangun di sungai dekat rumah Desma. Jembatan itu sudah dapat dilalui sepeda motor maupun mobil.

Desma bersyukur jembatan ini sudah ada. Kini dia tidak lagi harus melalui sungai untuk mengantar anak ke sekolah.

Warga lainnya, Chelsi Maulia Putri, menyebut keberadaan jembatan sangat penting bagi masyarakat di tempat tinggalnya. Selain mengantar anak sekolah, jembatan ini juga dilalui warga yang mau ke pasar membeli keperluan sehari-hari.

"Jembatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Karena jembatan ini merupakan suatu akses untuk warga bisa untuk beraktivitas seperti mengantarkan anak sekolah, berbelanja ke pasar," ujarnya.

"Sebelumnya masyarakat harus lewat sungai atau bahkan tidak bisa berpindah tempat. Sekarang masyarakat bisa berpindah tempat dari satu jorong ke jorong lainnya," jelasnya.

Jembatan Permanen Dibangun

Site Operations Manager Hutama Karya Indonesia (HKI) Infrastruktur, Muhammad Yuanto, menyebut akan dibangun jembatan permanen di wilayah ini. Pembangunan jembatan permanen dinilai penting karena ruas jalan Melalak Timur ini adalah jalur alternatif dari Padang ke Bukittinggi.

"Jadi jembatan ini sangat krusial di Melala ini. Karena jembatan ini adalah penghubung dari melala untuk ke Bukittinggi," tutur Yuan.

"Menurut pengakuan warga di sini memang aktivitas lebih banyak mengarah ke Bukittinggi daripada ke Padang karena secara harga lebih murah. Kemudian dari hasil alamnya pun lebih cocok dijual di Bukittinggi," tambahnya.

Jembatan yang akan dibangun rencananya sepanjang 80 meter. Dan akan dibangun selama 8 bulan.

"Desain sementara menggunakan jembatan 80 meter yang insyaallah dapat dibangun 8 sampai 10 bulan," jelasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pemerintah Resmikan 1.300 Unit Huntara untuk Korban Bencana Sumatera"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads