Harga Telur Tak Kunjung Naik, Peternak di Lampung Timur Khawatir Gulung Tikar

Lampung

Harga Telur Tak Kunjung Naik, Peternak di Lampung Timur Khawatir Gulung Tikar

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Selasa, 30 Jun 2026 16:00 WIB
Kandang ayam petelur yang ada di Lampung Timur
Foto: Kandang ayam petelur yang ada di Lampung Timur (Tommy Saputra)
Lampung Timur -

Peternak ayam petelur di Kabupaten Lampung Timur tengah menghadapi masa sulit. Dalam tiga bulan terakhir, harga telur di tingkat kandang terus merosot, sementara biaya produksi justru melonjak akibat kenaikan harga pakan.

Kondisi itu dikeluhkan Masrokan, salah seorang peternak ayam petelur di Lampung Timur. Ia mengatakan harga telur saat ini hanya bertahan di kisaran Rp 23 ribu per kilogram atau turun sekitar Rp 4 ribu dibandingkan Maret 2026 yang sempat mencapai Rp 27 ribu per kilogram.

"Sejak Maret harga terus turun. Sekarang di kandang tinggal sekitar Rp 23 ribu per kilogram," kata Masrokan, Selasa (30/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anjloknya harga telur, kata dia, tidak diikuti penurunan biaya operasional. Sebaliknya, harga pakan ayam justru mengalami kenaikan sekitar Rp 35 ribu per karung berukuran 50 kilogram.

Akibatnya, selisih antara biaya produksi dan harga jual semakin tipis. Bahkan, sebagian peternak mulai merugi karena hasil penjualan tidak lagi mampu menutup biaya pakan dan kebutuhan operasional kandang.

ADVERTISEMENT

"Yang kami rasakan sekarang jual makin murah, tapi modal makin besar. Kondisi seperti ini jelas memberatkan peternak," ujarnya.

Masrokan menambahkan, lesunya permintaan pasar membuat harga telur sulit terdongkrak. Meski harga sudah turun, penyerapan dari pedagang belum mengalami peningkatan yang signifikan.

Ia mengaku para peternak kini hanya bisa bertahan sambil berharap kondisi pasar segera pulih. Jika situasi terus berlangsung, banyak peternak skala kecil dikhawatirkan tidak mampu mempertahankan usahanya.

"Kalau harga terus begini dan tidak ada perbaikan pasar, bukan tidak mungkin banyak peternak yang berhenti karena sudah tidak sanggup menanggung biaya produksi," ungkapnya.

Masrokan berharap pemerintah turun tangan untuk menjaga stabilitas harga telur sekaligus mencari solusi agar peternak tidak terus mengalami kerugian di tengah naiknya biaya produksi.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads