Penantian keluarga korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, belum berakhir. Memasuki hari ke-20 pencarian, salah satu keluarga korban asal Lampung Selatan meminta bangkai kapal segera diangkat untuk membuka kemungkinan ditemukannya korban yang masih berada di dalam kapal.
Korban tersebut merupakan kru musik KM Virgo Transport 8 yang bekerja sebagai pemain keyboard. Hingga kini, keberadaannya belum diketahui setelah kapal tenggelam pada 13 September 2026.
Anak korban, Fara, mengatakan ayahnya berangkat dari Bakauheni pada 31 Juli 2026 setelah mendapat panggilan kerja. Sehari kemudian, dia mulai bertugas sebagai kru musik di KM Virgo Transport 8.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama bekerja, ayah Fara menetap di kapal dan rutin berkomunikasi dengan keluarga. Tidak ada tanda-tanda khusus sebelum komunikasi tersebut terputus akibat kecelakaan kapal.
"Selama kerja memang tinggalnya di dalam kapal itu. Nggak pernah turun selama sebulan lebih kerja kayak biasa saja. Kita komunikasi terus, tiap hari teleponan sampai waktu kejadian tanggal 13 malam pukul 2 kapal tenggelam," kata Fara, Sabtu (3/10/2026).
Kabar kapal tenggelam baru diterima Fara pada pagi harinya dari saudaranya yang berada di Surabaya. Dia kemudian langsung menuju Banjarmasin untuk mencari informasi mengenai ayahnya.
Fara juga menyerahkan data korban kepada posko pencarian. Namun, sampai operasi SAR memasuki hari ke-20, ayahnya belum masuk dalam daftar korban yang ditemukan.
Fara menyebut kamar ayahnya berada di bagian bawah kapal, tidak jauh dari area dek kendaraan truk. Kondisi tersebut membuat keluarga menduga korban masih mungkin berada di dalam kapal.
"Posisi kamar papa aku itu di bawah, dekat dek mobil-mobil truk. Aku takut papa masih kejebak di dalam kamar," ujarnya.
Menurut Fara, bagian tersebut belum dapat dijangkau penyelam karena kondisi bangkai kapal dinilai berisiko.
Dia mengatakan dalam beberapa hari terakhir tidak ada lagi korban yang ditemukan dari bagian bangkai kapal. Penyelaman ke dalam kapal juga disebut tidak dilakukan pada Jumat (2/10).
Keluarga kemudian berharap pengangkatan bangkai kapal dapat menjadi opsi untuk membuka akses ke ruangan-ruangan yang belum bisa dijangkau tim SAR.
Fara meminta perusahaan dan pihak asuransi segera mengambil langkah untuk melakukan salvage.
"Aku minta pihak perusahaan dan asuransi secepatnya melakukan proses salvage (pengangkatan kapal) agar korban-korban yang terjebak di kamar bawah yang nggak ada kaca jendelanya itu bisa segera ditemukan," katanya.
Di sisi lain, Basarnas Banjarmasin masih melakukan pencarian terhadap puluhan korban yang belum ditemukan. Kasi Ops Basarnas Banjarmasin Arianto mengatakan pencarian dilakukan di wilayah pesisir Kalimantan Tengah dan area laut.
"Untuk korban dalam pencarian ada 55, sementara 80 sudah ditemukan meninggal dunia," ujar Arianto dalam konferensi pers, Jumat (2/10).
Arianto menyebut tim penyelam saat ini berada di Banjarmasin untuk proses recovery. Dia belum dapat memastikan apakah operasi pencarian akan dilanjutkan memasuki hari ke-21.
Tim SAR, kata dia, masih melakukan koordinasi dan upaya pencarian untuk memaksimalkan proses evakuasi korban.
Bagi Fara, pencarian ayahnya belum selesai. Dia memilih tetap bertahan di Banjarmasin hingga ada kepastian mengenai keberadaan ayahnya.
"Aku bakal tetap di sini di Banjarmasin sampai selesai semua, sampai bisa ditemukan papa aku," tuturnya.
Hingga kini, keluarga korban mengaku hanya bisa menunggu perkembangan operasi SAR.
"Kondisi kita keluarga korban cuma bisa nunggu terus aja, Kak," ucapnya.
Sejak KM Virgo Transport 8 tenggelam pada 13 September 2026, sebanyak 188 orang telah dievakuasi. Rinciannya, 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia. Sementara 55 orang lainnya masih dalam pencarian.
