Pemerintah Provinsi Lampung mendorong pendekatan baru dalam konservasi gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Upaya tersebut dilakukan dengan menggabungkan perlindungan satwa, pencegahan konflik dengan warga, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
Sejumlah langkah disiapkan, mulai dari mengubah pola interaksi antara mahot dan gajah, mengembangkan budi daya serai dan lebah, membangun tanggul pembatas, hingga menata kembali konsep wisata gajah.
Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi kawasan dan memastikan gajah tetap aman setelah TNWK sempat dilanda kebakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil peninjauan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) memastikan gajah-gajah di kawasan tersebut dalam kondisi baik.
"Karena banyak sekali isu gajah terdampak kebakaran, kami cek ternyata gajah-gajah kita sehat walafiat, aman, senang, tenang, ya. Gajah-gajahnya malah makin gemuk-gemuk," kata Mirza saat berada di TNWK bersama jajaran Forkopimda Lampung.
Pola Interaksi Mahot dan Gajah Diubah
Salah satu agenda yang disiapkan adalah mengubah pola interaksi antara mahot dan gajah. Pendekatan lama yang dinilai banyak bertumpu pada rasa takut akan diarahkan menjadi hubungan yang lebih harmonis.
Para mahot direncanakan mengikuti pelatihan di Elephant Nature Park (ENP), Thailand. Pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman baru mengenai cara merawat dan berinteraksi dengan gajah.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan perubahan pendekatan tersebut akan dilakukan secara bertahap.
"Nantinya, ada perubahan pendekatan," ujarnya.
Dia mengatakan hubungan antara mahot dan gajah nantinya tidak lagi dibangun berdasarkan rasa takut.
"Kalau dulu pendekatan dengan gajah takut dengan mahot. Nanti, hubungannya harmonis," katanya.
Serai dan Lebah untuk Kurangi Konflik
Selain mengubah pola interaksi manusia dengan gajah, Pemprov Lampung juga menyiapkan pendekatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Serai dan lebah dikembangkan di wilayah yang berbatasan dengan TNWK. Kedua komoditas tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kedatangan gajah ke permukiman dan lahan pertanian warga.
Di sisi lain, budidaya tersebut ditargetkan menjadi sumber pendapatan masyarakat melalui pengelolaan usaha desa.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah TNWK Brigjen TNI Sriyanto mengatakan pihaknya tengah menyiapkan mesin penyulingan serai.
"Kami sedang memesan mesin untuk penyulingan serai," ujar Sriyanto.
Serai tersebut nantinya diolah menjadi minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti sabun, pengharum dan aromaterapi.
Untuk budidaya lebah, sebanyak 900 kotak telah diberikan kepada masyarakat di kawasan perbatasan TNWK. Jumlah tersebut ditargetkan bertambah menjadi 1.500 kotak.
"Minggu depan mungkin sudah menjadi 1.500 boks lebah," kata Sriyanto, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, koloni lebah yang ada saat ini terus berkembang melalui proses pemecahan koloni.
Pengembangan serai dan lebah diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari mitigasi konflik gajah, tetapi juga membuka sumber penghasilan baru bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Tanggul Pembatas Dibangun
Langkah lain yang disiapkan adalah pembangunan tanggul pembatas di jalur yang menjadi akses keluar-masuk gajah.
Sriyanto mengatakan pembangunan tanggul menjadi salah satu pekerjaan penting dalam upaya mencegah gajah memasuki wilayah permukiman dan lahan masyarakat.
Pembangunan tanggul menghadapi sejumlah tantangan karena kondisi tanah di beberapa lokasi labil. Selain itu, sejumlah titik pembangunan berbatasan dengan sungai dan daerah aliran sungai.
Pembangunan tanggul ditargetkan selesai pada pertengahan September 2026. Hingga saat ini, progres keseluruhan pembangunan telah mencapai 75,81 persen.
Wisata Gajah Akan Ditata Ulang
Konsep wisata di TNWK juga akan mengalami perubahan. Balai TNWK berencana menata kembali pola interaksi wisatawan dengan gajah setelah proses revitalisasi selesai.
Zaidi mengatakan skema baru tersebut akan mengubah model interaksi wisata gajah yang selama ini berjalan.
"Mungkin nanti kita akan dengan model revitalisasi yang baru, kita akan buat skema model interaksi yang baru. Jadi mungkin tidak lagi seperti dulu," kata Zaidi.
Penataan tersebut diarahkan agar kegiatan wisata tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan dan perilaku alami gajah.
Diminta Tak Ada Lagi Perburuan-Pembakaran
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi meminta masyarakat dan seluruh pihak ikut menjaga TNWK. Dia mengingatkan ancaman terhadap kawasan konservasi tidak hanya berasal dari konflik manusia dan satwa, tetapi juga perburuan liar, perambahan, dan pembakaran lahan.
"Sama-sama menjaga Taman Nasional ini. Kita pelihara, tidak ada lagi yang melakukan perburuan liar, tidak ada lagi perambahan, tidak ada lagi yang membakar lahan, sehingga lahan ini bisa sama-sama kita jaga, tidak ada lagi kebakaran," ujar Kristomei.
Pemprov Lampung berharap berbagai langkah tersebut dapat memperkuat upaya konservasi sekaligus mengurangi potensi konflik antara gajah liar dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNWK.
