Arsjad Rasjid Sebut Indonesia Punya Peluang Besar di Ekonomi Halal

Sumatera Selatan

Arsjad Rasjid Sebut Indonesia Punya Peluang Besar di Ekonomi Halal

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Senin, 08 Jun 2026 22:20 WIB
Pengusaha nasional asal Palembang, Arsjad Rasjid memberikan kuliah umum di UIN Raden Fatah
Foto: Pengusaha nasional asal Palembang, Arsjad Rasjid memberikan kuliah umum di UIN Raden Fatah (Welly Jasrial Tanjung)
Palembang -

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin ekonomi halal dunia. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia serta posisi geografis yang strategis, Indonesia disebut memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri halal global.

Menurut,pengusaha nasional asal Palembang, Arsjad Rasjid mengatakan Chairman B57+ Asia Pacific Chapter menekankan bahwa pengembangan ekosistem halal tidak bisa dilakukan secara sendiri, melainkan harus melalui kolaborasi berbagai pihak.

"Membangun ekosistem halal itu seperti membangun rumah. Tidak bisa sendirian, harus gotong royong. Kita punya modal besar untuk bisa memimpin," ujar Arsjad di hadapan mahasiswa saat memberikan kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Senin (8/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsyad menjelaskan, potensi ekonomi halal global terus menunjukkan tren pertumbuhan signifikan. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, nilai ekonomi halal dunia mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,56 triliun pada 2029.

Meski memiliki populasi Muslim lebih dari 240 juta jiwa, Indonesia saat ini masih berada di peringkat keempat dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI), di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

ADVERTISEMENT

"Malaysia saat ini di peringkat pertama, kita di peringkat keempat. Padahal Indonesia punya populasi Muslim terbesar dan posisi strategis. Ini seharusnya bisa kita maksimalkan," ungkapnya.

Arsjad menilai posisi Indonesia yang berada di kawasan Asia Pasifik sekaligus dekat dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menjadi keunggulan tersendiri dalam memperluas pasar produk halal.

"Indonesia ini jembatan antara Asia Pasifik dan negara-negara OKI. Ini keunggulan yang sangat besar kalau bisa dimanfaatkan dengan baik," katanya.

Dalam kapasitasnya sebagai Chairman B57+ Asia Pacific Chapter, Arsjad juga mendorong penguatan kerja sama ekonomi antarnegara anggota OKI. Inisiatif B57+ sendiri merupakan bagian dari Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) yang menghubungkan 57 negara anggota OKI dan mitra lainnya.

Arsyad menyebut B57+ Asia Pacific berfokus pada penguatan perdagangan, investasi lintas negara, serta penyusunan kebijakan agar produk halal lebih mudah diterima di pasar global.

"Yang kami dorong adalah perdagangan nyata, investasi nyata, dan dampak nyata, bukan sekadar wacana," tegasnya.

Arsjad juga menegaskan bahwa ekonomi halal bersifat inklusif dan tidak eksklusif untuk satu kelompok tertentu. Pengembangan sektor ini, menurutnya, dapat melibatkan seluruh pelaku usaha tanpa memandang latar belakang.

"Ekonomi halal ini terbuka. Semua bisa terlibat dan merasakan manfaatnya," pungkasnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads