Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka 48 Jam

Internasional

Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka 48 Jam

Rolando Fransiscus Sihombing - detikSumbagsel
Minggu, 22 Mar 2026 11:30 WIB
US President Donald Trump gestures as he delivers a special address during the World Economic Forum (WEF) annual meeting in Davos on January 21, 2026. The World Economic Forum takes place in Davos from January 19 to January 23, 2026. (Photo by Mandel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: AFP/MANDEL NGAN)
Palembang -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tak dibuka dalam waktu 48 jam.

Dilansir detikNews dari AFP, Minggu (22/3/2026), Donald Trump memberi Iran tenggat waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran atau menghadapi penghancuran infrastruktur energinya.

"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diketahui, Iran menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Teheran pada 28 Februari.

ADVERTISEMENT

Sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat itu, dan penutupan tersebut membuat negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran tersebut berupaya mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan.

Terhambatnya pasokan dari Teluk telah menyebabkan harga bahan bakar melonjak di seluruh dunia, mengancam pemerintah dengan inflasi yang meluas semakin lama perang berlanjut.

Militer AS mengatakan sebelumnya pada Sabtu (21/3) bahwa mereka telah merusak bunker Iran yang menyimpan senjata yang mengancam pengiriman minyak dan gas di Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut tampaknya dirancang untuk menenangkan kekhawatiran pasar energi dan sekutu internasional Washington yang skeptis, lebih dari 20 di antaranya mengeluarkan pernyataan yang berjanji untuk mendukung upaya membuka kembali jalur laut utama tersebut.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads