Inflasi Palembang Capai 0,58% pada Februari 2026, Pemkot Siapkan Intervensi

Sumatera Selatan

Inflasi Palembang Capai 0,58% pada Februari 2026, Pemkot Siapkan Intervensi

Mutiara Helia Praditha - detikSumbagsel
Selasa, 03 Mar 2026 13:40 WIB
Ilustrasi -Β Tomat hingga cabai rawit menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Juni 2025. (Foto:Β Nathea Citra/detikBali)
Foto: Ilustrasi komoditas penyumbang inflasi. (Foto:Β Nathea Citra/detikBali)
Palembang -

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang mencatat inflasi bulanan (month-to-month) Februari 2026 sebesar 0,58 persen. Secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat 4,37 persen.

Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, menjelaskan inflasi Februari terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas seperti cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama kenaikan harga pada bulan ini.

"Pada Februari 2026 terjadi inflasi m-to-m sebesar 0,58 persen. Secara y-on-y tercatat 4,37 persen, dan inflasi tahun kalender 0,63 persen," ujar Edi, Senin (2/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, dari 393 komoditas yang dipantau di Kota Palembang, sebanyak 89 komoditas mengalami kenaikan harga, 29 komoditas mengalami penurunan, dan 275 komoditas relatif stabil. Beberapa komoditas seperti bensin serta sejumlah sayuran tercatat turun harga sehingga membantu menahan tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi.

"Secara umum sebagian besar komoditas relatif stabil, namun memang ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dan mendorong inflasi Februari ini," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Secara tahunan, Edi menjelaskan tekanan inflasi Palembang turut dipengaruhi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, terutama oleh tarif listrik.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberi andil cukup besar, dengan emas perhiasan sebagai komoditas dominan. Meski demikian, laju inflasi Palembang masih sejalan dengan tren inflasi di tingkat provinsi maupun nasional.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya pengendalian inflasi, terutama menjelang Idulfitri.

"Pengendalian, termasuk juga peningkatan permintaan dan ketersediaan pasokan, ini menjadi PR bagi organisasi perangkat daerah pengampu lainnya," kata Ratu Dewa.

Ia menilai sejumlah catatan yang disampaikan BPS perlu segera direspons melalui intervensi di sektor perdagangan serta pertanian dan ketahanan pangan. Menurutnya, langkah sederhana seperti mendorong masyarakat menanam komoditas tertentu dapat berdampak terhadap stabilitas harga.

Ratu Dewa juga meminta organisasi perangkat daerah untuk aktif berkonsultasi dengan BPS guna mengetahui sektor yang perlu diintervensi, serta memperkuat strategi 4K, mulai dari ketersediaan pasokan hingga kelancaran distribusi.

"Tim pengendalian inflasi daerah harus intens berkoordinasi, termasuk dengan Bank Indonesia, agar inflasi maupun pertumbuhan ekonomi di Kota Palembang tetap terjaga dengan baik," pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di Detikcom.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads