Pembangunan Jembatan Muara Lawai di Lahat, Sumatera Selatan, yang ambruk akibat dilalui 4 truk batu bara memgalami hambatan. Dari total kebutuhan pembangunan jembatan sebesar Rp 22 miliar, dana patungan yang terkumpul baru 25%.
"Kebutuhan Jembatan Lawai itu Rp 22 miliar, uangnya baru terkumpul Rp 5 miliar. (Pengumpulannya) karena bertahap," ujar Gubernur Sumsel Herman Deru, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, pengumpulan dana pembangunan itu diserahkan seluruhnya kepada perusahaan, sebagai penanggung jawab kerusakan jembatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu menjadi urusan merekalah. Uang pembangunan itu sebenarnya sudah ditentukan oleh asosiasi, si A berapa, si B berapa, si C berapa. Sekarang sudah terkumpul 25% (Rp 5 miliar)" katanya.
Dia menyebut, pelaksana pembangunan Jembatan Muara Lawai itu adalah BBPJN (Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Selatan, selaku penanggung jawab jalan dan jembatan nasional di lokasi tersebut.
"Mungkin kalau pekerjaan dibangun pihak swasta, bisa langsung kerja pembangunan jembatan ini. Ada duit berapa saja bisa bangun, tapi ini tidak bisa, harus ada uang dulu sistemnya baru bangun," jelasnya.
Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Sumsel Andi Asmara membenarkan dana yang terkumpul untuk pembangunan Jembatan Muara Lawai baru Rp 5 miliar.
"Iya, baru terkumpul Rp 5 miliar. Kita juga mendorong perusahaan untuk secepatnya ikut berkontribusi dalam pendanaan pembangunan jembatan," ujarnya.
Dia mengakui adanya hambatan dalam pengumpulan dana patungan pembangunan jembatan selama ini, sehingga pihaknya meminta Pemprov Sumsel untuk mengkoordinasikan antarperusahaan.
"Kita serahkan ke pemprov untuk penagihan dana (patungan) ke perusahaan-perushaan," tukasnya.
(dai/dai)











































