Angka kemiskinan di Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami tren penurunan dalam enam terakhir sejak 2019 hingga September 2025. Pakar ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Marsuki menilai tren penurunan ini sejalan dengan penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran hingga pengendalian inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Sulsel tercatat menurun dari 4,33% pada 2024 menjadi 4,21% pada 2025. Penurunan ini dinilai relatif kecil namun menjadi indikator adanya perbaikan aktivitas ekonomi.
"Walaupun penurunannya relatif kecil, dampaknya cukup terasa terhadap penurunan tingkat kemiskinan. Ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas aktivitas ekonomi dan kesempatan kerja," kata Prof Marsuki dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan pengendalian inflasi juga menjadi faktor penting. Peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia dinilai efektif dalam menjaga inflasi tetap terkendali pada kisaran 2,5-3,0% sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas ini menambahkan, perbaikan tata kelola program bantuan sosial juga berkontribusi. Program bansos mulai dari pendataan hingga distribusi lebih tepat sasaran, turut mempercepat penurunan kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Penurunan kemiskinan ini tidak terlepas dari kebijakan pembangunan yang terarah baik dari pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Sulsel. Kerja sama lintas instansi memberi penguatan sektor produktif, peningkatan kualitas infrastruktur, ekonomi, sosial serta berbagai program yang tepat sasaran.
"Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, inflasi yang terkendali, serta program perlindungan sosial yang semakin tepat sasaran, Sulsel berada pada jalur yang cukup baik untuk terus menekan kemiskinan secara berkelanjutan," kata Prof Marsuki.
Diketahui, BPS melaporkan persentase penduduk miskin Sulsel pada September 2025 tercatat 685,14 ribu jiwa atau sebesar 7,43% dari total jumlah penduduk. Capaian ini merupakan angka terendah sejak pandemi COVID-2019 sekaligus menegaskan keberlanjutan tren perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat Sulsel.
Jika ditarik ke belakang, jumlah penduduk miskin Sulsel pada September 2019 masih berada di kisaran 759,58 ribu jiwa dengan persentase 8,56%. Sempat mengalami fluktuasi pada periode pandemi COVID-19, angka kemiskinan mulai menurun secara konsisten sejak 2023 hingga 2025, baik dari sisi jumlah maupun persentase.
BPS Sulsel juga mencatat penurunan disparitas kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada September 2025, tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat 9,56%, turun dibanding periode sebelumnya, sementara di perkotaan berada pada angka 5,17%. Tren ini menunjukkan upaya pengentasan kemiskinan di wilayah pedesaan mulai membuahkan hasil.
"Alhamdulillah BPS mencatat kondisi Sulawesi Selatan dengan persentase 7,43% menjadi terendah dalam 6 tahun terakhir," kata Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Jumat (6/2).
Andi Sudirman memaparkan, penurunan kemiskinan ini tidak terlepas dari kebijakan pembangunan yang terarah. Terutama arahan dari pemerintah pusat ke daerah sebagai penguatan sektor produktif, peningkatan kualitas infrastruktur, ekonomi, sosial serta berbagai program yang tepat sasaran.
"Ini adalah wujud kerja kolaborasi di bawah komando Bapak Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran. Mari terus tingkatkan kerja kerja untuk tujuan Sulsel Maju dan Berkarakter menuju Indonesia Emas 2045," jelasnya.
(sar/hsr)











































