Komunitas BUMIbaraNI menggaungkan kebudayaan lewat 9 pertunjukan seni Bugis Sidenreng. Pertunjukan itu dikemas dengan tajuk Massidie Show The Blitz.
Pertunjukan itu berlangsung di Auditorium IAIN Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (17/2/2026). Kegiatan itu diisi seniman budaya lokal yang menampilkan beragam pertunjukan budaya Sidenreng.
Ketua Panitia Pelaksana, Sanro Massiang, menegaskan, acara ini bukan sekadar seremoni musiman. Namun kegiatan itu merupakan sebuah gerakan untuk mengangkat martabat seniman daerah yang selama ini sering terabaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Massiddie Show the Blitz (showbiz) adalah langkah awal BUMIbaraNI untuk mengajak seniman lokal di berbagai daerah, bahkan hingga ke pelosok Nusantara, untuk dapat bersuara lewat panggung profesional yang kami rancang," ujar Sanro Massiang kepada detikSulsel, Kamis (19/2/2026).
Visi itu lahir dari keresahan akan minimnya panggung yang layak bagi talenta berbakat di daerah. Sanro berharap ekosistem seni daerah bisa lebih mandiri dan diakui secara nasional.
"Mohon doanya agar kami tetap bertahan dan terus konsisten menjaga denyut nadi kesenian ini," ujarnya.
Sanro mengungkapkan, keberhasilan pertunjukan itu tidak lepas dari dukungan Kementerian Kebudayaan melalui program Indonesiana kategori Cipta Karya dan Inovatif. Serta sokongan LPDP Dana Abadi Kemenkeu dan Orda Massiddi.
"Kegiatan ini juga didukung penuh tokoh-tokoh seperti Kalla, Muhammad Rifai (SP), hingga KH. Hannani turut berdiri di barisan pendukung utama," katanya.
Sanro Massiang memuji keterlibatan institusi pendidikan yang menjadi tulang punggung teknis acara. Sinergi antara Management Auditorium IAIN, organisasi Animasi, hingga Pramuka menciptakan standar produksi yang sangat solid.
"Berkat dukungan merekalah peristiwa ini digelar dengan sangat epik. Tanpa kolaborasi ini, sulit membayangkan panggung sebesar ini terwujud," ungkap Sanro.
Sanro menegaskan, pertunjukan kebudayaan itu akan digelar di beberapa daerah. Menurutnya, apresiasi terhadap seni harus mulai dihargai secara profesional demi keberlangsungan hidup para seniman.
"Di kemudian hari, pertunjukannya tidak lagi gratis. Kita harus mulai menghargai karya sebagai sebuah industri yang sehat," tegas Sanro.
Pertunjukan ini juga diramaikan oleh deretan nama ikonik yang memberikan warna tersendiri, mulai dari Jamal Gentayangan, Alexmalmsteem, Dirja Wiharja, Darja Miharja, hingga komunitas Kolong Rumah Atoz dan Setangkai Bunga Makka.
Adapun 9 pertunjukan yang ditampilkan dalam kegiatan itu yakni:
- Jamal Gentayangan (Sinrili)
- Darja Miharja (Date-date To Ogi)
- Naufal Afiq (Pidato Kebudayaan)
- Kikahasart (Teater Boneka Ogi Sidenreng)
- Alex Masteen
- Hasrul Samad (Ratatana)
- Dirja Wiharjo (Monolog Ogi Sidenreng)
- Sanro Lamassiang (Sajak 'Kami Keturunan Langit')
- Dirja Wiharja (Manifesto BUMIbaraNI)
