Kapolrestabes Makassar Jelaskan Kronologi Pistol Polisi Tak Sengaja Meletus-Tewaskan Remaja

Kapolrestabes Makassar Jelaskan Kronologi Pistol Polisi Tak Sengaja Meletus-Tewaskan Remaja

Nurul Hidayah - detikSulsel
Selasa, 03 Mar 2026 23:24 WIB
Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana menjelaskan kronologi remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo Radiman,  terkena tembakan dari pistol polisi yang tidak sengaja meletus. Reinhard/detiksulsel
Foto: Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana menjelaskan kronologi remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo Radiman, terkena tembakan dari pistol polisi yang tidak sengaja meletus. Reinhard/detiksulsel
Makassar -

Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana menjelaskan kronologi tewasnya remaja 18 tahun, Bertrand Eka Prasetyo Radiman, yang terkena tembakan dari pistol milik anggota polisi Iptu N. Ia menyebut senjata tersebut meletus secara tidak sengaja hingga mengenai korban.

Insiden bermula saat Iptu N menerima laporan sejumlah anak melakukan aksi perang-perangan memakai senjata mainan di Jalan Toddopuli Raya, Kota Makassar, Minggu (1/3) pagi. Menurut Arya, aksi tersebut meresahkan warga terutama pengguna jalan.

"Setelah itu, salah satu anggota kami, Iptu N, itu langsung mendengar dan datang ke TKP. Ketika datang ke TKP, bertepatan dengan seorang anak muda atas nama Bertrand, pada waktu itu sedang melakukan tindakan yang cukup keras (diduga menendang) kepada salah seorang pengendara motor," ujar Kombes Arya kepada wartawan, Selasa (3/3/2026) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Begitu Iptu N turun dari mobil, langsung melakukan penangkapan, memegang pelaku (Bertrand) sambil mengeluarkan tembakan peringatan. Setelah dilakukan tembakan peringatan, yang lain melarikan diri, hanya satu yang tertangkap, si Bertrand tadi," imbuhnya.

Bertrand yang tertangkap lantas berupaya melarikan diri dengan cara meronta. Menurut Arya, saat itulah pistol Iptu N tidak sengaja meletus dan mengenai korban.

ADVERTISEMENT

"Bertrand berusaha untuk melarikan diri, berusaha meronta, dan ketika meronta, pistol yang masih dipegang oleh Iptu N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang (korban)," jelasnya.

Bertrand sendiri sempat dilarikan ke RS Grestelina, Kota Makassar, untuk menerima tindakan medis awal. Korban yang membutuhkan perawatan medis lebih lengkap lalu dirujuk ke RS Bhayangkara, Makassar.

"Dan ketika sudah di Rumah Sakit Bhayangkara, ternyata Bertrand, almarhum sudah meninggal dunia," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, ibu korban, Desi Manutu (44) mengaku sedang berada di Jakarta saat menerima kabar anaknya terkena tembakan. Dia menerima kabar saat anaknya masih dalam kondisi menerima perawatan.

"Saya dapat informasi, saya kan kebetulan di Jakarta sekitar jam 11.00, tapi belum dibilang meninggal, katanya ada di rumah sakit, katanya ada tawuran, bagaimana, saya kurang tahu juga, intinya (korban) di rumah sakit di Bhayangkara," kata Desi saat ditemui detiksulsel di rumah duka Jalan Toddopuli 1, Selasa (3/3/2026).

Sekitar satu jam kemudian, kata Desi, dia kembali mendapat kabar dari Makassar jika anaknya sudah meninggal. Dia juga saat itu baru mendapat informasi jika anaknya meninggal karena tertembak.

"Meninggal ditembak, ada ngomong katanya anaknya ada konvoi, terus ada kayak tawuran begitu, terus terkena tembakan," jelas Desi.

"Saya sempat bilang, kok bisa anakku kena tembakan. Saya tidak terima," ujarnya.

Desi mengaku langsung pulang ke Makassar setelah menerima kabar duka itu. Dia memang sudah berencana pulang ke Makassar dalam waktu dekat.

"Memang rencananya saya sudah mau pulang. Sebelum meninggal itu dia selalu menelepon, katanya, kapan pulang," kata Desi.

Tren Perang Senjata Mainan Resahkan Warga di Makassar

Suasana di Kota Makassar, belakangan ini diwarnai tren senjata mainan yang menjamur selama Ramadan. Jalan-jalan umum kerap dijadikan arena bermain tembak-tembakan hingga dinilai sangat meresahkan masyarakat.

Tren ini kian menjadi sorotan lantaran tak sedikit remaja hingga orang dewasa yang keluar rumah dengan menenteng senjata mainannya, terutama setelah tarawih hingga subuh. Tidak sedikit dari mereka yang menggelar konvoi keliling kota menggunakan sepeda motor untuk mencari lawan tembak-tembakan di jalanan umum hingga membuat arus lalu lintas serasa tiba-tiba mencekam.

Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin pun turut dibuat geram dengan fenomena ini. Dia menilai tren tembak-tembakan dengan peluru jeli dan butiran plastik itu sudah berlebihan dan tidak bisa dibiarkan.

"Iya itu saya minta persoalan ini jangan dianggap main-main," ujar Appi kepada wartawan di Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026).

Appi menegaskan permainan ini sudah di luar batas kewajaran karena dilakukan dengan saling kejar-kejaran menggunakan sepeda motor. Dia meminta semua pihak melakukan pencegahan.

"Penggunaannya juga kadang-kadang sudah berlebihan, dipakai di atas motor tembak-tembak dari atas motor menurut saya ini persoalan yang tidak bisa dibiarkan, harus semua pihak harus mampu menahan," katanya.

Appi menegaskan permainan ini tidak boleh sekadar untuk bersenang-senang. Kegiatan itu semestinya turut memerhatikan ketertiban umum yang menjadi terganggu karena dilakukan tanpa batasan.

"Bukan cuman fun, tapi persoalannya kalau sudah bisa mencelakakan orang lain, bisa mengganggu ketertiban umum," jelasnya.




(hmw/nvl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads