Keluarga Curiga WNI Asal Maros yang Tewas di Armenia Jadi Korban Pembunuhan

Keluarga Curiga WNI Asal Maros yang Tewas di Armenia Jadi Korban Pembunuhan

Reindhard Soplantila - detikSulsel
Senin, 20 Jul 2026 10:30 WIB
Ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi. Foto: (Getty Images/ilbusca)
Maros -

Warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), Valenth A Tambuto (24) ditemukan tewas di Armenia dalam kondisi mulut hingga tangan dilakban dalam kamar mes di Armenia. Keluarga mencurigai Valenth menjadi korban pembunuhan berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari rekan kerja dan pacar korban.

Adik korban, Arnold Tambuto mengatakan keluarga memperoleh sejumlah informasi yang mengarah pada dugaan pembunuhan di balik kematian kakaknya. Namun, dia menegaskan informasi tersebut merupakan keterangan yang diterima dari orang-orang terdekat korban.

"Memang informasi itu (pembunuhan) banyak yang menyebutkan. Kami dapat informasi dari beberapa kerabat dekat dan juga dari pacar almarhum sendiri," ujar Arnold Tambuto kepada wartawan, Minggu (19/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arnold mengatakan salah satu dugaan motif yang disampaikan kepadanya berkaitan dengan kebiasaan korban yang sering meminjamkan uang kepada rekan-rekannya. Sedangkan rekan-rekannya tersebutlah yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan.

"Katanya yang pertama, Valenth itu terlalu baik karena suka meminjamkan uang ke temannya. Dan uang itu yang dipinjamkan ke pelaku semua. Itu ada bukti chatnya kalau itu," katanya.

ADVERTISEMENT

Selain itu, keluarga juga menerima informasi bahwa korban sempat diajak terlibat dalam dugaan penggelapan uang perusahaan oleh para rekannya. Namun korban disebut menolak ajakan tersebut.

"Yang kedua, waktu itu Valenth diajak oleh mereka (pelaku) untuk ikut serta dalam rencana penggelapan uang perusahaan, tetapi Valenth menolak," tutur Arnold.

Arnold mendapat cerita bahwa korban diduga mengetahui rencana tersebut sehingga dikhawatirkan akan melaporkannya kepada pihak perusahaan. Setelah beberapa orang di antaranya juga memiliki utang kepada korban, akhirnya mereka kemudian diduga merencanakan untuk membunuh Valenth.

"Mungkin karena mereka khawatir nantinya Valenth mau bocorkan itu sampai ke bosnya, jadi mereka berpikir menghilangkan nyawanya. Kebetulan mereka juga punya utang ke Valenth, jadi sekaligus tuntas semua. Itu cerita yang saya dengar," ungkapnya.

Meski demikian, Arnold menegaskan keluarga belum menerima informasi resmi dari aparat penegak hukum Armenia terkait motif maupun pelaku di balik kematian korban.

"Kami belum dapat berita resminya. Itu baru cerita dari teman-teman yang satu perusahaan dengan Valenth, teman kantornya, termasuk dari Tati pacar korban. Semua kompak ceritanya seperti itu," tegasnya.

Diketahui, kabar meninggalnya Valenth pertama kali diterima oleh pihak keluarganya pada Rabu (15/7) malam. Arnold mengaku masih sempat berkomunikasi dengan kakaknya beberapa jam sebelum kabar duka itu diterima.

"Iya benar kakak saya yang meninggal di Armenia. Almarhum bekerja di sana di bidang IT di perusahaan konsultan IT," ujar Arnold.

Arnold mengatakan komunikasi terakhir dengan korban terjadi pada Rabu (15/7) dini hari sekitar pukul 01.00 Wita atau hari Selasa (14/7) malam waktu Armenia. Saat dilakukan pengecekan, korban ditemukan dalam kondisi tangan dan mulut dilakban.

"Kondisi jenazah (waktu ditemukan) katanya terikat lakban. Kaki, tangan, dan mulut itu terikat lakban. Waktu itu saya syok saya matikan telepon saya tidak dengar jauh lagi, tapi infonya saya dengar memang waktu dibuka (jenazahnya) ada banyak darah," beber Arnold.



(asm/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads