Owner travel PT Travelina Indonesia berinisial AK (28) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), ditangkap polisi gegara menelantarkan 29 jemaah umrah di Jeddah, Arab Saudi. AK diduga menjalankan bisnis dengan skema ponzi atau biaya keberangkatan jemaah bersumber dari uang jemaah lain yang mendaftar berikutnya.
Sebanyak 29 jemaah PT Travelina Indonesia terlantar tanpa mendapatkan penginapan dan makanan saat tiba di Jeddah, pada Kamis (14/2). Beruntung, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran dan rombongan menemukan para jemaah itu.
"29 jemaah ini terlantar di Jeddah, namun diselamatkan wali kota Kendari dan warga Kendari yang berada di sana dengan menanggung biaya kehidupan jemaah," kata Kanit Tipidter Satreskrim Polresta Kendari Ipda Ariel Mogens Ginting kepada wartawan, Senin (16/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, jemaah asal Kendari awalnya berjumlah 64 orang saat tiba di Jakarta. Namun akibat keterlambatan visa, semua tiket jemaah hangus, hingga 29 jemaah dan 1 tour guide dibelikan tiket baru.
"29 jemaah plus pembimbing umrah diberangkatkan ke Jeddah dengan tiket baru. 35 orang lainnya pulang ke Kendari dengan tiket mandiri. 29 jemaah ini yang terlantar di Jeddah," ucap Ariel.
Owner Ditangkap Usai Nikah
Polisi yang melakukan penyelidikan kemudian menangkap owner travel di Desa Sandey, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, pada Minggu (15/2) malam. AK diamankan setelah melangsungkan resepsi pernikahannya.
"Iya, yang bersangkutan kami amankan karena banyak orang mencarinya," kata Ariel.
Dari video beredar di media sosial, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengunjungi para jemaah yang terlantar di depan sebuah hotel. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya para jamaah bisa masuk ke dalam hotel untuk menginap dan beristirahat.
Dalam penggalan video lainnya, AK yang mengenakan kemeja berwarna putih keluar dari rumah yang sudah dipadati sejumlah warga. Dia kemudian ikut bersama aparat kepolisian.
Diduga Pakai Skema Ponzi
Ariel mengungkapkan dari hasil pemeriksaan awal ditemukan sekitar Rp 1,85 miliar dana jemaah yang diselewengkan. Namun polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus tersebut.
"Total dana yang tidak sesuai peruntukannya sebesar Rp 1,85 miliar. Saat ini kami sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan dana jemaah umrah tersebut," ungkap Ariel.
Dia menuturkan penyidik menemukan adanya defisit dana sejak Januari 2026. Pihak travel lantas mengatasi persoalan itu dengan mengambil dana jemaah yang masih berada dalam daftar tunggu pemberangkatan.
"Dari hasil penyelidikan sementara, kami menemukan adanya defisit dana sejak gelombang Januari," ujarnya.
Pada gelombang pemberangkatan Januari, terjadi kekurangan dana operasional sebesar Rp 700 juta yang telah dikumpulkan sejak Desember 2025. Kekurangan tersebut kemudian ditutup menggunakan dana jemaah gelombang Februari.
"Dana jemaah periode berikutnya dipakai untuk menutup defisit sebelumnya," jelas Ariel.
Sementara gelombang Februari, dana masuk tercatat sebesar Rp 1,2 miliar dan seluruhnya habis terserap. Dana itu digunakan menutup defisit Januari Rp 700 juta dan pembiayaan awal keberangkatan Februari sebesar Rp 500 juta.
"Namun kebutuhan riil keberangkatan Februari mencapai Rp 1,54 miliar sehingga masih terdapat kekurangan sekitar Rp 1,04 miliar," bebernya.
Kekurangan dana gelombang Februari sebesar Rp 1,04 miliar kembali ditutup menggunakan dana jemaah gelombang Maret. Dana Maret yang masuk sebesar Rp 1,15 miliar lalu digunakan untuk pembelian tiket, tambahan pemberangkatan, deposit tiket yang hangus, hingga operasional pribadi.
"Dana gelombang Maret yang masuk sebesar Rp 1,15 miliar dan saat ini dana tersebut sudah habis," ungkap Ariel.
Dari rekapan sementara, dana jemaah yang tidak sesuai peruntukan berasal dari gelombang Februari Rp 700 juta dan gelombang Maret Rp 1,15 miliar. Total dugaan dana yang disalahgunakan mencapai Rp 1,85 miliar.
"Ini masih analisa awal dan akan kami dalami lebih lanjut," kata Ariel.
Polisi juga menemukan rekening pribadi AK digunakan sebagai rekening usaha sehingga berpotensi terjadi penyalahgunaan. Owner travel juga mengaku paket umrah dijual murah untuk menarik banyak jemaah di gelombang selanjutnya.
"Rekening pribadi digunakan sebagai rekening usaha sehingga berpotensi menimbulkan penyalahgunaan dana jemaah dan AK mengakui jual harga murah agar banyak jemaah yang daftar," imbuhnya.











































