Kementan Jamin Ketersediaan Stok Telur di Sulsel, Surplus 13.215 Ton

Muhclis Abduh - detikSulsel
Jumat, 16 Sep 2022 20:32 WIB
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Nasrullah bersama peternak asal Sidrap.
Foto: Muhclis Abduh/detikSulsel
Sidrap -

Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan telur di kawasan Indonesian Timur, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Produksi telur di Sulsel diproyeksi mampu tembus 188.248 ton.

"Kita proyeksi produksi telur secara nasional hingga akhir tahun melimpah. Jadi insyaallah kebutuhan telur kita aman, termasuk di Indonesia Timur ini," ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Nasrullah saat berkunjung ke sentra telur di Sidrap, Jumat (16/9/2022).

Nasrullah mengatakan jumlah penduduk di Sulsel sebanyak 9.022.300 orang dengan kebutuhan telur tahun 2022 sebesar 175.033 ton.


Sementara total populasi ayam ras petelur (layer) di Sulsel sebanyak 12.982.642 ekor dan proyeksi produksi telur ayam ras tahun 2022 sebanyak 188.248 ton. Sehingga terdapat surplus sebanyak 13.215 ton.

"Surplus ini digunakan sebagai bufferstock sebanyak 264 ton (2%) dan dijual keluar Pulau Sulawesi, seperti ke Kalimantan, NTT, Maluku dan Papua sebanyak 733 ton (5,55%) per tahun," jelasnya.

Nasrullah menjelaskan, Kabupaten Sidrap merupakan salah satu daerah sentra produksi ternak ayam ras petelur (layer) terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan.

Adapun data produksi telur ayam ras di Kabupaten Sidrap sebanyak 75.793 ton dari total populasi ayam ras petelur (layer) sebanyak 5.227.123 ekor, sedangkan kebutuhan telur ayam ras sebanyak 70.472 ton, sehingga terdapat surplus sebanyak 5.321 ton.

"Melihat kondisi ini, kami terus mendorong peternak ayam ras petelur (layer) di Kabupaten Sidrap ini untuk terus meningkatkan produksi dan menargetkan untuk ekspansi ekspor," ujar Nasrullah.

Adapun produksi telur nasional hingga akhir tahun diproyeksi mencapai 5.843.489 ton. Sementara kebutuhan diproyeksi sebesar 5.502.679 ton sehingga ada surplus hingga 340 ribu ton di akhir tahun 2022 nantinya.

Terkait sempat terjadinya lonjakan harga telur, ia mengaku hal tersebut hanya sesaat dan hanya kepanikan masyarakat. Sebab jika melihat dari sisi produksi selalu surplus.

"(Kenaikan harga) itu panik market biasa karena kita surplus untuk produksi," paparnya.

Kondisi saat ini menurutnya harga telur sudah cenderung stabil di beberapa daerah bahkan di daerah Jawa sudah turun dari harga awal. Dia memprediksi di akhir September harga telur sudah bisa stabil di semua daerah.

Sementara pimpinan perusahaan peternakan PT. Cahaya Mario, Usman Appas mengatakan produksi telur ayam ras di peternakan ayam miliknya cukup melimpah dan mampu memenuhi kebutuhan di Indonesia Timur. Bahkan dikirim hingga ke Kalimantan dan Papua.

"Kita terus berharap dukungan pemerintah, terutama agar harga pakan terkontrol dan begitu juga harga telur menjadi lebih stabil," jelasnya.



Simak Video "Mendag Zulhas Sebut Bansos Jadi Penyebab Harga Telur Naik"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/sar)