Realisasi Investasi Makassar Rp 2,43 T, Hotel-Resto Penyumbang Terbesar

Ibnu Munsir - detikSulsel
Jumat, 05 Agu 2022 11:46 WIB
Warga berjalan di area Anjungan Pantai Losari di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (7/7/2021). Pemerintah Kota Makassar menutup sementara sejumlah area publik di daerah itu dari pengunjung seiring penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang berlangsung hingga 20 Juli 2021 guna menekan angka penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/ARNAS PADDA
Makassar -

Realisasi investasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) periode Januari-Juni 2022 (Semester I) tembus di angka Rp 2,43 triliun. Sektor hotel dan restoran penyumbang terbesar investasi.

"Realisasi investasi Kota Makassar Rp 2,43 triliun, 37% menopang investasi provinsi," tutur Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Makassar Andi Zulkifli dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (5/8/2022).

Realisasi investasi Makassar senilai Rp 2,345 triliun itu terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp 240 miliar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 2,195 triliun. Capaiannya melebihi target RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kota Makassar.


"Realisasinya sekitar 122 persen dari target RPJMD Kota Makassar tahun 2022 sebesar Rp 2 triliun," ungkapnya.

Zulkifli mengungkapkan realisasi Rp 2,43 triliun ini menjadikan Kota Makassar peringkat pertama realisasi investasi di Sulsel. Disusul Kabupaten Luwu Timur dengan realisasi Rp1,42 triliun, dan Luwu Rp 776,593 miliar.

"Kalau kita lihat data investasi kita didominasi dari dalam negeri, kalau modal asing itu hanya Rp 240 miliar," ujar Andi Zulkifli.

Andi Zulkifli mencatat ada lima sektor penyumbang investasi di Kota Makassar. Salah satunya sektor hotel dan restoran mencapai Rp 1,08 triliun. Posisi kedua sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp 429,38 miliar.

Selanjutnya yang ketiga, sektor konstruksi Rp 375,19 miliar. Kemudian di posisi keempat sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi Rp 181,74 miliar, dan posisi kelima sektor jasa lainnya Rp 94,38 miliar.

Andi Zulkifli menambahkan, realisasi investasi tergambar dari Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) yang harus dilaporkan pengusaha atau investor. Pelaporannya setiap tiga bulan yang dapat diakses melalui OSS.

"Setiap tiga bulan mereka harus melaporkan LKPM melalui OSS, kalau tidak sanksinya kita cabut NIB-nya," tegas Zulkifli.

Hanya saja diakui Zulkifli, masih banyak pelaku usaha yang tidak patuh menyetor LKPM sesuai waktu yang ditentukan. Sehingga ke depan pihaknya akan menurunkan tim untuk memantau dan mengedukasi pelaku usaha usaha agar melaporkan LKPM-nya.

"Ini saya yakin masih di bawah 50 persen yang laporkan LKPM. Bagaimana kalau dua kali lipatnya melaporkan pasti akan tinggi nilainya," pungkasnya.



Simak Video "Penyaluran Dana BLT Minyak Goreng Capai Rp 7,2 T"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/nvl)