Berita Nasional

Dolar AS Menguat Tembus Rp 14.900, Harga HP hingga Pakaian Berpotensi Naik

detikFinance - detikSulsel
Selasa, 21 Jun 2022 12:38 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.
Foto: Nilai tukar rupiah terhadap AS melemah. (Ilustrasi/Agung Pambudhy)
Jakarta -

Mata uang rupiah melemah tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang tembus di angka Rp 14.900. Situasi ini bisa memicu kenaikan inflasi yang berdampak pada kenaikan harga sejumlah barang.

Berdasarkan data Radients Technologies Inc (RTI), nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah sempat menyentuh Rp 14.900 pada Senin (20/6/2022) siang pukul 12.05 WIB.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menuturkan, situasi ini akan berdampak pada kenaikan harga barang yang dalam transaksinya membutuhkan mata uang dolar. Khususnya harga-harga yang sifatnya masih impor.


"Dampaknya memang akan semakin mengkatrol harga barang-barang yang kita impor. Baik barang jadi seperti bahan pangan, obat-obatan, pakaian, kendaraan, elektronika, dan lainnya. Maupun bahan baku bagi industri dalam negeri," ucap Faisal sebagaimana dilansir dari detikFinance, Senin (20/6/2022).

"Jadi pelemahan Rupiah ikut berkontribusi terhadap inflasi disamping kenaikan harga komoditas sendiri di pasar global," sambung dia.

Harga barang elektronik pun terdampak penguatan mata uang dolar AS, yakni laptop dan handphone. Kedua barang yang sebagian besar masih diimpor Indonesia.

"Betul, itu termasuk (laptop dan handphone) karena di barang impor," beber Faisal.

Sementara Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menuturkan tertekannya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut bakal memicu peningkatan inflasi.

Selain itu daya beli masyarakat tertekan. Lantaran harga produk yang meningkat seiring kenaikan biaya produksi, utamanya di sektor industri manufaktur.

"Pelemahan ini berdampak ke beberapa hal, pertama ada kenaikan biaya produksi industri manufaktur," papar Bhima sebagaimana dilansir dari detikFinance, Senin (20/6/2022).

Kenaikan biaya produksi ini, utamanya di manufaktur bergantung ke bahan baku impor akan diteruskan kepada konsumen akhir. Dengan demikian akan menciptakan tekanan inflasi lebih tinggi di dalam negeri.

Melemahnya nilai tukar Rupiah ini akan berdampak pada kenaikan sejumlah barang yang sifatnya masih impor. Dalam hal ini kebutuhan pokok energi dan pangan.

"Tentunya kenaikan harga kebutuhan pokok akan terjadi akibat nilai tukar melemah dan membuat masyarakat keluarkan lebih banyak uang untuk beli kebutuhan sehari-hari," ucap Bhima.

Kelompok masyarakat miskin di dalam 40% kelompok pengeluaran paling bawah yang paling terpukul atas kondisi ini.

"Karena semakin rendah pengeluaran maka semakin rentan terhadap fluktuasi nilai tukar yang berimbas ke harga barang di pasar," jelasnya.



Simak Video "Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/nvl)