Kebakaran di Gunung Lakawan Enrekang 3 Hari Belum Padam, 70 Ha Lahan Hangus

Kebakaran di Gunung Lakawan Enrekang 3 Hari Belum Padam, 70 Ha Lahan Hangus

Muhclis Abduh - detikSulsel
Rabu, 02 Sep 2026 15:01 WIB
Kebakaran di Gunung Lakawan Enrekang.
Foto: Kebakaran di Gunung Lakawan Enrekang. (dok. istimewa)
Enrekang -

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Lakawan, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), sudah tiga hari belum padam. BPBD Enrekang turut mengklarifikasi total lahan yang hangus terbakar bukan 500 hektare (ha), melainkan 70 hektare.

"Sudah tiga hari dengan hari ini (Gunung Lakawan terbakar). Untuk hari ini proses pemadaman sementara ini ada tim dari Polisi Hutan, Damkar, dan masyarakat, Pak Camat, TNI dan Polri yang turun membantu," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Enrekang Amiruddin kepada detikSulsel, Rabu (2/9/2026).

Amiruddin mengatakan, pemadaman terkendala medan yang terjal dan sulut diakses. Angin kencang di kawasan pegunungan juga menyulitkan pemadaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang susah, apalagi gunung, angin kencang bertiup terus. Tebing-tebing juga, jadi susah dijangkau," ungkapnya.

Amiruddin turut memperbaharui data kawasan hutan dan lahan yang terbakar. Dia mengaku sebelumnya keliru dalam menyampaikan dampak kebakaran mencapai 500 hektare.

ADVERTISEMENT

"Salah itu luas yang terbakar di Gunung Lakwan, bukan 500 hektare. Di perkirakan 70 hektare semua untuk per hari ini. Tapi masih bisa bertambah, belum padam sebagian," terangnya.

Dia menyebut vegetasi di kawasan yang terbakar didominasi pohon pinus dan tumbuhan hutan lainnya. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah membakar dan bertahan.

"Ada pinus dan tumbuhan-tumbuhan lainnya, seperti hutan, tumbuhan hutan yang terbakar," beber Amiruddin.

Saat ini petugas menggunakan metode back burning untuk mengendalikan api. Teknik membakar bagian tertentu untuk mengurangi material yang dapat menjadi jalur rambatan api.

"Sekarang pakai teknik back burning kita khawatirkan jika semakin lama api menyala bisa sampai ke pemukiman," jelas Amiruddin.

Teknik itu dilakukan untuk mengantisipasi risiko material dari tebing yang dapat jatuh ke bawah. Pihaknya menghindari api semakin meluas.

"Takutnya nanti kalau ada masyarakat sementara lalu lalang di bawah, jatuh batu-batunya," tambah Amiruddin.

"Mudah-mudahan hari ini sudah padam. Kita juga sudah da mobil Damkar dan BPBD dan tim stay di bawah untuk menjaga pemukiman," ucapnya.

Diketahui, kebakaran di Gunung Lakawan, Kelurahan Tanete, Kecamatan Anggeraja terjadi pada Senin (31/8) malam. Lokasi awal munculnya api berada sekitar 10 meter dari pinggir jalan alternatif jalur Cakke.

"Titik api berjarak cukup jauh dari pemukiman padat penduduk, sehingga tidak ada korban jiwa maupun rumah warga yang terbakar," ujar Camat Anggeraja, Kadang Kandari kepada wartawan.



(sar/ata)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads