Wanita Lansia Stroke di Mamasa Ditandu 10 Km Lewati 2 Sungai untuk Berobat

Sulawesi Barat

Wanita Lansia Stroke di Mamasa Ditandu 10 Km Lewati 2 Sungai untuk Berobat

Abdy Febriady - detikSulsel
Sabtu, 08 Agu 2026 14:45 WIB
Warga di Mamasa, menandu Sitti (73) yang stroke sejauh 10 km ke puskesmas karena akses jalan rusak.
Warga di Mamasa, menandu Sitti (73) yang stroke sejauh 10 km ke puskesmas karena akses jalan rusak. Foto: dok istimewa
Mamasa -

Wanita bernama Sitti (73) yang menderita stroke di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa ditandu sejauh 10 kilometer ke puskesmas karena akses jalan rusak. Tak hanya berjalan kaki, warga juga harus menyeberangi dua anak sungai yang belum memiliki jembatan agar pasien lanjut usia itu segera mendapatkan perawatan medis.

"Kemarin itu kami bersama warga menandu pasien dengan menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer sampai ke ujung aspal," kata warga bernama Join Lius kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026).

Wanita lansia itu ditandu dari rumahnya di Desa Peu', Kecamatan Tabulahan, Mamasa pada Jumat (7/8) sekira pukul 09.00 Wita. Pasien ditandu selama kurang lebih satu setengah jam dari rumahnya menuju ujung jalan beraspal, tempat ambulans menunggu untuk kemudian membawanya ke Puskesmas Tabulahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami berangkat kemarin jam sembilan, sebenarnya mau pagi-pagi sekali tapi proses pembuatan tempatnya (tandu) lama karena pakai bambu. Ini pasien sakit stroke, ditandu mulai dari rumahnya sampai di tempat mobil ambulans menunggu untuk mengantar ke Puskesmas Tabulahan," bebernya.

Menurut Lius, pasien terpaksa ditandu lantaran akses jalan dari kampung halamannya sangat sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Kondisi diperparah, lantaran warga juga harus menyeberangi dua anak sungai yang belum memiliki jembatan.

ADVERTISEMENT

"(Kondisi jalan rusak) Sejak dari dulu, tidak bisa dilalui mobil, motor pun setengah mati. Apalagi ada dua sungai kecil tanpa jembatan yang harus diseberangi," terangnya.

Dia mengungkapkan, aksi warga menandu orang sakit bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Diakui, setiap kali ada warga yang membutuhkan penanganan medis dan kondisinya tidak memungkinkan dibawa menggunakan sepeda motor, masyarakat terpaksa bergotong royong menandu pasien hingga ke titik yang dapat dijangkau ambulans.

"Jadi hal ini bukan yang pertama kali kami lakukan sebagai warga masyarakat tetapi setiap kali ada orang sakit maka kami selaku masyarakat setempat hanya bisa melakukan dengan cara menandu pasien untuk diantarkan ke puskesmas atau diantarkan ke rumah sakit," ungkapnya.

Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi akses jalan menuju Desa Peu'. Perbaikan infrastruktur sangat dibutuhkan agar aktivitas masyarakat dapat berjalan lancar, termasuk ketika warga membutuhkan pelayanan kesehatan.

"Jadi harapan kami kepada bapak-bapak pemerintah hanya akses jalan untuk diperhatikan, agar kami bisa menjalani kehidupan dengan lebih layak," pungkas Lius.

Dalam potongan video yang beredar, terlihat sejumlah warga berjalan kaki sambil bergotong royong memikul tandu sederhana yang dibuat dari bambu. Sitti tampak berbaring di atas tandu tersebut saat dibawa melewati jalan yang terjal dan berbatu.

Terdengar suara seorang pria yang meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi masyarakat di pelosok. Pria itu juga menyinggung momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang akan datang, lantaran masih ada masyarakat di daerah terpencil belum merasakan kemerdekaan dalam arti sesungguhnya.

"Sepuluh hari lagi kita akan kembali merayakan, mengenang kembali hari besar Indonesia, hari kemerdekaan. Namun apa yang terjadi, di rakyat-rakyat pelosok apakah kemerdekaan sudah benar-benar kami nikmati, ternyata kemerdekaan hanyalah sejarah bagi kami," katanya.

"Jangan tutup mata, jangan tutup mata, lihat keadaan rakyat kecilmu, wahai bapak Presiden, Wakil Presiden, bapak Gibran, coba lihat keadaan kami, bersuara jangan hanya tutup mata melihat keadaan kami. Kami tidak butuh istana, yang kami butuhkan hanyalah akses yang layak agar kami bisa menikmati kehidupan, agar kami bisa menikmati kemerdekaan di Indonesia ini," lanjut pria dalam video.



(hsr/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads