Pemkab Lutra Sabet detiktimur Awards Berkat Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

detiktimur Awards 2026

Pemkab Lutra Sabet detiktimur Awards Berkat Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Hasrul - detikSulsel
Jumat, 07 Agu 2026 20:54 WIB
detiktimur Andi Abdullah Rahim
Foto: Bupati Luwu Utara Andi Rahim meraih penghargaan detiktimur Awards 2026. (Screenshoot 20detik)
Jakarta -

Pemerintah Kabupaten Luwu Utara (Pemkab Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel), berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem menjadi 1,13 persen pada 2025. Pencapaian ini mengantarkan Pemkab Lutra menerima penghargaan detiktimur Awards 2026 dengan kategori Akselerator Inovasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem.

Bupati Lutra Andi Abdullah Rahim menerima trofi penghargaan itu pada malam puncak detiktimur Awards 2026 di Grand Ballroom Trans Hotel Jakarta, Jumat (7/8/2026). Piagam penghargaan diserahkan oleh Direktur Transmedia Latif Hanoko.

Penghargaan ini menjadi bukti keberhasilan Andi Rahim dalam upaya penanganan kemiskinan ekstrem di wilayahnya. Pasalnya, daerah ini sempat terperangkap dalam daftar tiga besar daerah termiskin di Sulsel yang diperparah oleh pandemic COVID-19 dan banjir bandang berskala besar pada tahun 20201.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemiskinan Ekstrem Turun Jadi 1,13 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan ekstrem di Luwu Utara pada tahun 2025 turun menjadi 1,13 persen. Kepala BPS Lutra Asep Yahya Mawali mengatakan penurunan angka kemiskinan ekstrem ini menjadi yang terendah sejak 3 tahun terakhir dan menempatkan Lutra posisi 5 terendah di Sulsel.

"Capaian 1,13 (persen) ini menempatkan Luwu Utara sebagai salah satu dari 5 kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan ekstrem terendah di Provinsi Sulawesi Selatan," ucap Asep Yahya kepada detikSulsel, Selasa (30/6).

ADVERTISEMENT

Asep mengatakan seluruh kabupaten/kota di Sulsel mengalami penurunan kemiskinan ekstrem dalam dua tahun terakhir. Kemiskinan ekstrem di Luwu Utara sendiri pada 2024 sebesar 2,04 persen dan menurun menjadi 1,13 persen pada 2025.

"Seluruh kabupaten mengalami penurunan angka miskin ekstrem selama 2 tahun terakhir," katanya.

Asep menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem merupakan kondisi ketika pengeluaran penduduk berada di bawah standar 2,15 USD PPP 2017 per kapita per hari yang digunakan Bank Dunia sebagai acuan global. Penurunan angka kemiskinan ekstrem tidak lepas dari program pemerintah daerah yang tepat sasaran.

"Ini artinya berbagai program pemerintah memang menyasar kelompok masyarakat paling rentan, tentunya tak lepas dari langkah pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem," jelasnya.

Bupati Luwu Utara Andi Rahim mengatakan capaian itu diraih berkat kerja keras dalam pembuatan program yang berbasis data dan menyentuh seluruh kalangan masyarakat. Dia menegaskan program tepat sasaran akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

"Penurunan kemiskinan ekstrem menjadi 1,13 persen bukan sekadar penurunan angka statistik. Di balik capaian ini, semakin banyak keluarga yang berhasil keluar dari kondisi paling rentan dan memiliki akses yang lebih baik terhadap layanan dasar serta peluang ekonomi. Ini adalah hasil kerja bersama yang harus terus dijaga melalui program-program yang tepat sasaran dan berbasis data," ujar Andi Rahim.

Strategi Andi Rahim Tangani Kemiskinan

Secara umum, Andi Rahim Menyusun tiga strategi untuk mengatasi kemiskinan di daerahnya. Hal itu dipaparkan Andi Rahim saat menemui perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) di Jakarta.

Dia mengatakan strategi pertama ialah mendorong pengurangan beban pengeluaran masyarakat miskin. Program ini diwujudkan melalui bantuan dan subsidi agar pendapatan masyarakat rentan dapat dialihkan ke hal yang lebih produktif.

"Pertama kami memaparkan bagaimana mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin melalui berbagai program bantuan dan subsidi untuk meringankan beban dan biaya hidup masyarakat," ujar Andi Rahim.

"Fokus utama dari strategi ini adalah agar pendapatan yang dimiliki kelompok masyarakat rentan tidak habis hanya untuk kebutuhan dasar, sehingga mereka dapat mengalokasikan sumber daya yang ada untuk kebutuhan lain yang lebih produktif," sambungnya.

Strategi kedua adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan pengembangan ekonomi pesisir. Luwu Utara menilai potensi garis pantai sepanjang 72,65 kilometer dapat dioptimalkan untuk mendukung upaya tersebut.

"Kita paparkan juga soal potensi kawasan garis pantai yang memungkinkan dilakukannya pengembangan produk-produk laut, seperti rumput laut, ikan kerapuh, lobster dan aneka produk laut lainnya, termasuk pembuatan keramba untuk ikan laut," jelasnya

"Panjang garis pantai kita kan kurang lebih 72,65 KM. Sehingga sangat cocok dilakukan berbagai upaya pengembangan dan pengelolaan jenis produk laut di sepanjang kawasan garis pantai kita," tambahnya.

Strategi ketiga adalah pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan dasar di wilayah miskin ekstrem. Menurutnya, perbaikan infrastruktur dapat mendorong pemerataan perputaran ekonomi.

"Strategi ketiga ini tentunya bertujuan agar wilayah-wilayah atau kantong-kantong kemiskinan tersebut tak lagi terisolasi atau tertinggal dalam hal kualitas hidup dan layanan dasar," bebernya.



(hsr/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads