Pemkab Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), mencatatkan kemajuan signifikan dalam upaya penanganan kemiskinan ekstrem. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan ekstrem di Luwu Utara pada tahun 2025 turun menjadi 1,13 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Luwu Utara Asep Yahya Mawali mengatakan penurunan angka kemiskinan ekstrem ini menjadi yang terendah sejak tiga tahun terakhir. Saat ini, Luwu Utara juga berada pada posisi 5 terendah di Sulsel.
"Capaian 1,13 (persen) ini menempatkan Luwu Utara sebagai salah satu dari 5 kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan ekstrem terendah di Provinsi Sulawesi Selatan," ucap Asep Yahya kepada detikSulsel, Selasa (30/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asep mengatakan bahwa kemiskinan ekstrem di Luwu Utara pada 2024 sebesar 2,04 persen dan menurun menjadi 1,13 persen pada 2025. Dia mengungkapkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Sulsel mengalami penurunan kemiskinan ekstrem dalam dua tahun terakhir.
"Seluruh kabupaten mengalami penurunan angka miskin ekstrem selama 2 tahun terakhir," katanya.
Asep menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem merupakan kondisi ketika pengeluaran penduduk berada di bawah standar 2,15 USD PPP 2017 per kapita per hari yang digunakan Bank Dunia sebagai acuan global. Penurunan angka kemiskinan ekstrem tidak lepas dari program pemerintah daerah yang tepat sasaran.
"Ini artinya berbagai program pemerintah memang menyasar kelompok masyarakat paling rentan, tentunya tak lepas dari langkah pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem," jelasnya.
Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim mengatakan capaian itu diraih berkat kerja keras dalam pembuatan program yang berbasis data dan menyentuh seluruh kalangan masyarakat. Dia menegaskan program-program tepat sasaran akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
"Penurunan kemiskinan ekstrem menjadi 1,13 persen bukan sekadar penurunan angka statistik. Di balik capaian ini, semakin banyak keluarga yang berhasil keluar dari kondisi paling rentan dan memiliki akses yang lebih baik terhadap layanan dasar serta peluang ekonomi. Ini adalah hasil kerja bersama yang harus terus dijaga melalui program-program yang tepat sasaran dan berbasis data," ujar Andi Rahim.
3 Jurus Andi Rahim Lawan Kemiskinan
Andi Rahim mengungkap tiga strategi untuk mengatasi kemiskinan di daerahnya. Hal itu dipaparkan oleh Andi Rahim saat menemui perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) di Jakarta.
Dia mengatakan strategi pertama ialah mendorong pengurangan beban pengeluaran masyarakat miskin. Program ini diwujudkan melalui bantuan dan subsidi agar pendapatan masyarakat rentan dapat dialihkan ke hal yang lebih produktif.
"Pertama kami memaparkan bagaimana mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin melalui berbagai program bantuan dan subsidi untuk meringankan beban dan biaya hidup masyarakat," ujar Andi Rahim.
"Fokus utama dari strategi ini adalah agar pendapatan yang dimiliki kelompok masyarakat rentan tidak habis hanya untuk kebutuhan dasar, sehingga mereka dapat mengalokasikan sumber daya yang ada untuk kebutuhan lain yang lebih produktif," sambungnya.
Strategi kedua adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan pengembangan ekonomi pesisir. Luwu Utara menilai potensi garis pantai sepanjang 72,65 kilometer dapat dioptimalkan untuk mendukung upaya tersebut.
"Kita paparkan juga soal potensi kawasan garis pantai yang memungkinkan dilakukannya pengembangan produk-produk laut, seperti rumput laut, ikan kerapuh, lobster dan aneka produk laut lainnya, termasuk pembuatan keramba untuk ikan laut," jelasnya
"Panjang garis pantai kita kan kurang lebih 72,65 KM. Sehingga sangat cocok dilakukan berbagai upaya pengembangan dan pengelolaan jenis produk laut di sepanjang kawasan garis pantai kita," tambahnya.
Strategi ketiga adalah pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan dasar di wilayah miskin ekstrem. Menurutnya, perbaikan infrastruktur dapat mendorong pemerataan perputaran ekonomi.
"Strategi ketiga ini tentunya bertujuan agar wilayah-wilayah atau kantong-kantong kemiskinan tersebut tak lagi terisolasi atau tertinggal dalam hal kualitas hidup dan layanan dasar," bebernya.
Pemkab Genjot Pembangunan Jalan Wilayah 3T
Andi Rahim mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan untuk mengatasi kemiskinan akan difokuskan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T). Hal ini bertujuan membuka akses ekonomi masyarakat.
"Strategi kami dalam pengentasan kemiskinan salah satunya adalah mengurangi kantong kemiskinan dengan intervensi yang diajukan ke Bappenas dan BP Taskin terkait pembangunan jalan terutama ke daerah 3T dan sentra ekonomi," katanya.
Andi Rahim mengatakan tren kemiskinan di wilayahnya menunjukkan penurunan sejak 2022 hingga 2025, namun jumlah penduduk miskin masih tergolong tinggi. Data tersebut merujuk pada publikasi tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Utara.
"Tren penurunan ini dapat dilihat dalam buku 'Luwu Utara Dalam Angka' yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara setiap tahun. Di mana sejak 2022, angka kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara terus mengalami tren penurunan yang cukup signifikan," jelasnya.
Dia menyebut persentase angka kemiskinan tertinggi terjadi pada 2021, yakni sebesar 13,59 persen. Pada periode tersebut, Luwu Utara masuk tiga besar daerah termiskin di Sulsel dan stigma itu melekat cukup lama.
"Hal itu menyebabkan stigma sebagai daerah termiskin pun selalu melekat dan pada tahun itu merupakan persentase angka tertinggi kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara," ucapnya.
Tingginya angka kemiskinan saat itu dipicu pandemi COVID-19 serta bencana banjir bandang yang melanda pada 2020. Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
"Saat itu tingginya angka kemiskinan di Luwu Utara adalah terjadinya pandemi COVID-19 dan bencana banjir bandang pada tahun 2020 lalu," tambahnya.
Memasuki 2022, Pemkab Luwu Utara mulai menekan lonjakan angka kemiskinan melalui berbagai kebijakan dan intervensi. Persentase 13,59 persen pada 2021 turun menjadi 13,22 persen pada 2022 dan kembali menurun menjadi 12,66 persen pada 2023.
"Tren penurunan terus berlanjut pada tahun 2024. Dimana pada tahun tersebut persentase angka kemiskinan berada pada angka 11,24 persen. Angka 11,24 persen ini merupakan penurunan terendah dari angka kemiskinan sejak Kabupaten Luwu Utara terbentuk pada tahun 1999 silam," bebernya.
Capaian tersebut membuat Luwu Utara keluar dari tiga besar daerah termiskin di Sulsel pada 2023. Meski demikian, angka 11,24 persen dinilai masih tinggi karena setara dengan sekitar 36 ribu penduduk.
"Alhamdulillah Pemda Lutra berhasil mengeluarkan daerah tercinta ini dari zona tiga besar daerah termiskin di Sulsel dan ini terendah angka kemiskinan sejak Luwu Utara terbentuk," ungkapnya.
Dia menegaskan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menekan angka kemiskinan lebih jauh. Fokus utama diarahkan pada pembangunan infrastruktur di wilayah pegunungan.
"Namun kami melihat angka tersebut masih sangat tinggi, dan kami akan terus berupaya memperkuat program-program pengentasan kemiskinan. Salah satunya menggenjot pembangunan infrastruktur jalan di wilayah-wilayah 3T seperti Rongkong, Seko, dan Rampi," tegasnya.
Menurutnya, kantong kemiskinan di Luwu Utara banyak berada di wilayah pegunungan akibat keterbatasan akses jalan. Kondisi tersebut menyebabkan mahalnya harga kebutuhan pokok hingga minimnya variasi pangan masyarakat.
"Ini bicara data, dimana wilayah yang akses jalannya tidak memadai yakni Kecamatan Rampi, Rongkong dan Seko harga bahan bangunan dan kebutuhan pokok mahal, biaya transportasi juga mahal, banyak rumah yang tidak layak huni, serta variasi makanan tidak banyak. Sehingga warga tidak banyak opsi untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi," bebernya.
Menurutnya, perbaikan akses jalan akan meningkatkan potensi komoditas unggulan dari wilayah terpencil sehingga dapat dipasarkan dengan harga kompetitif. Sebanyak 61,36 persen angka kemiskinan di Luwu Utara disebut berasal dari daerah pegunungan.
"Menurut kami akses jalan yang memadai dapat meningkatkan potensi komoditas unggulan dari tiga wilayah terpencil, sehingga nantinya hasil alam lokal warga dapat dipasarkan dengan harga yang kompetitif. Jadi kami tegaskan 61,36% kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara disumbangkan oleh daerah gunung, dan persoalan utamanya adalah akses jalan," bebernya.
(hsr/hmw)
