Fenomena hujan es dan embun salju melanda tiga distrik di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Cuaca ekstrem berkepanjangan tersebut menyebabkan kegagalan panen hingga kematian ternak warga yang memicu krisis pangan.
Bencana hidrometeorologi yang memicu kelangkaan pangan terjadi sejak Juni 2026. Selama dua bulan terakhir, cuaca ekstrem memberikan dampak serius bagi warga di Distrik Agandugume, Distrik Oneri, dan Distrik Lambewi.
"Masyarakat mengalami cuaca ekstrem yang berdampak pada kehidupan sehari-hari akibat hujan es dan embun salju," kata Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Puncak, Nenu Tabuni dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data hasil kaji cepat, sebanyak 224 hektare lahan pertanian di tujuh kampung di Distrik Agandugume mengalami gagal panen. Sementara itu, sekitar 92 hektare lahan di Distrik Oneri dan 184 hektare lahan di Distrik Lambewi juga mengalami kondisi serupa.
Bencana itu pun mengakibatkan masyarakat mengalami gangguan kesehatan. Situasi itu ditindaklanjuti Pemkab Puncak dengan menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 18 Agustus 2026.
"Pemerintah Kabupaten Puncak menetapkan status tanggap darurat," ungkap Nenu Tabuni.
Kendati begitu, masyarakat terdampak tidak langsung mendapat penanganan. Situasi keamanan yang dianggap belum kondusif mengakibatkan penyaluran bantuan sempat terkendala.
"Selama kurang lebih dua bulan terdapat gangguan keamanan yang menyebabkan penanganan dan penyaluran bantuan tertunda," paparnya.
Penyaluran bantuan baru dilakukan setelah situasi keamanan berangsur kondusif. Nenu Tabuni mengawal langsung penyaluran bantuan kepada warga terdampak yang dipusatkan di Lapangan Puskesmas Agandugume, Senin (3/8).
Nenu Tabuni didampingi rombongan pejabat Pemkab Puncak hingga kepala distrik di tiga wilayah terdampak. Dia turut mengapresiasi aparat keamanan yang mengawal penyaluran bantuan kepada warga terdampak.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Pangkogabwilhan III dan seluruh aparat keamanan yang telah membantu menjaga keamanan Bandara Agandugume," jelas Nenu Tabuni.
Adapun bantuan yang disalurkan berupa bahan makanan kepada masyarakat terdampak. Dinas Kesehatan Puncak juga mengirimkan obat-obatan dan enam tenaga kesehatan ke Distrik Agandugume guna mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
Penanganan bencana juga dilakukan secara lintas sektor. Pangkogabwilhan III turut menyalurkan makanan siap saji dan peralatan medis bagi masyarakat terdampak. Dinas Ketahanan Pangan Puncak menyalurkan lebih dari 100 ton beras untuk masyarakat terdampak.
Penanganan bencana dan penyaluran bantuan akan dilakukan secara bertahap selama masa tanggap darurat. Hal ini untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat di tiga distrik terdampak tetap terpenuhi.
Sementara itu, Kepala Distrik Lambewi, Lainus Wenda mengapresiasi Pemkab Puncak dan seluruh pihak yang mendukung proses penanganan bencana. Dia juga berkomitmen untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban.
"Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian secara berkelanjutan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan, serta pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana," ujar Lainus.
Melintasi Jalan Terjal demi Salurkan Bantuan
Koops TNI Habema menyalurkan bantuan bagi warga terdampak cuaca ekstrem di tiga distrik di Kabupaten Puncak. (dok. istimewa) |
Penyaluran bantuan ke daerah terdampak cuaca ekstrem sedianya sudah lebih dulu dilakukan aparat TNI melalui Koops TNI Habema pada Sabtu (1/8). Prajurit TNI menembus medan ekstrem dengan cuaca yang tidak menentu untuk membawa dua ton bantuan logistik.
"Kami memahami bahwa saudara-saudara kita di Agandugume , Oneri, dan Lambewi sedang menghadapi situasi yang sangat berat akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan kekeringan dan kelangkaan pangan," kata Dansatgas Teritorial Koops TNI Habema, Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan dalam keterangannya.
Keterbatasan lokasi pendaratan pesawat mengharuskan bantuan diturunkan di titik yang berjarak 120 kilometer dari sejumlah distrik yang dituju. Dari lokasi pendaratan pesawat, personel harus melewati lereng-lereng curam, lembah, sungai, dan jalur pegunungan.
Setelah 12 hari perjalanan menuju ketiga distrik terdampak, bantuan akhirnya dapat disalurkan. Bantuan itu berupa beras, paket sembako, mi instan, gula, susu bergizi untuk bayi dan anak-anak, serta obat-obatan.
"Meskipun medan yang ditempuh sangat sulit dan cuaca sering kali tidak bersahabat, kami akan terus berupaya hadir untuk membantu. Keselamatan dan kesejahteraan masyarakat adalah prioritas kami," tegasnya.
Stefie menekankan, sinergi seluruh pihak sangat diperlukan agar bantuan kemanusiaan dapat terus menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang terdampak bencana. Dia berharap bantuan itu bisa meringankan kebutuhan pangan masyarakat.
"Koops TNI Habema akan terus mendukung setiap upaya kemanusiaan demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Papua," imbuh Stefie.
Simak Video "Video: Israel Salahkan Hamas soal Krisis Kelaparan di Gaza"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

