Polisi mengungkap hasil pemeriksaan terhadap nakhoda KLM Nurul Salsa bernama Marlin usai kapalnya tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Marlin mengakui telah memaksakan diri untuk berlayar di tengah cuaca buruk hanya dengan menggunakan satu mesin.
"Dia tahu cuaca lagi buruk dan dia juga tahu kapal itu pernah mengalami kebocoran, hanya sudah diperbaiki. Saat diperiksa dia mengakui dan menyadari kesalahannya," ujar Kasat Polairud Polres Kepulauan Selayar Iptu Amad Soedachlan kepada wartawan, Sabtu (18/7/2026).
Amad menjelaskan, saat kejadian, wilayah perairan Selayar sedang memasuki musim timur dengan kondisi angin kencang dan gelombang tinggi. Dalam kondisi tersebut, kapal seharusnya tidak dipaksakan berlayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat itu musim timur dengan ombak dan angin yang cukup kencang. Seharusnya kapal tidak berlayar lebih dulu," katanya.
Selain faktor cuaca, penyidik juga menemukan dugaan kapal mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Nakhoda disebut turut mengakui jumlah penumpang melebihi data manifes.
"Kapasitasnya over. Dia mengaku itu salah dan di luar prediksi," jelas Amad.
Polisi juga mendalami dugaan gangguan mesin yang terjadi tidak lama setelah kapal meninggalkan Pulau Polassi. Kapal disebut hanya mengandalkan satu mesin sehingga tidak mampu melawan arus dan gelombang saat cuaca memburuk.
"Mesinnya bermasalah tidak jauh dari Pulau Polassi. Kapal hanyut ke arah barat karena terdorong angin dari timur. Dia hanya mengandalkan satu mesin," ungkapnya.
Tak hanya itu, penyidik turut menyelidiki dugaan manipulasi manifes penumpang. Polisi menduga jumlah penumpang yang sebenarnya tidak sesuai dengan data manifes demi memperoleh keuntungan lebih besar.
"Motifnya diduga memanipulasi manifes untuk mendapatkan keuntungan berlebih," pungkas Amad.
