Jejak Pencarian 24 Penumpang KLM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar

Jejak Pencarian 24 Penumpang KLM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar

Tim detikSulsel - detikSulsel
Jumat, 17 Jul 2026 09:00 WIB
KLM Nurul Salsa yang dilaporkan mengalami mati mesin di perairan Kepulauan Selayar.
KLM Nurul Salsa yang dilaporkan mengalami mati mesin di perairan Kepulauan Selayar. Foto: Istimewa
Selayar -

Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa mengalami mati mesin dan tenggelam di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebanyak 24 penumpang masih dalam pencarian, 47 lainnya telah dievakuasi, termasuk satu orang dalam keadaan meninggal dunia.

KLM Nurul Salsa berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, pada Rabu (15/7) sekitar pukul 05.00 Wita. Saat berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi atau sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng, kapal mengalami mati mesin.

"Kapal mati mesin sebelum tenggelam di perairan barat Pulau Polassi. Setelah mati mesin, kapal kemudian tenggelam," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arif mengatakan tim SAR gabungan bergerak menuju lokasi setelah menerima laporan kapal mengalami mati mesin. Sebelum tim gabungan sampai ke lokasi, Kapal Motor (KM) Harapan Kita lebih dulu menemukan para korban sekitar 18 nautical mile dari lokasi kejadian sekitar pukul 00.00 Wita.

"Begitu menerima informasi terkait KM Nurul Salsa yang mengalami mati mesin di perairan Selayar, kami segera menggerakkan unsur SAR untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap seluruh penumpang serta awak kapal," Arif.

ADVERTISEMENT

Arif menuturkan KM Harapan Kita memang melintasi jalur yang sama dengan KLM Nurul Salsa. Sebanyak 41 orang berhasil dievakuasi KM Harapan Kita, termasuk satu orang meninggal dunia bernama Salmawati (34).

Berdasarkan data sementara, total korban yang telah ditemukan mencapai 47 orang. Enam orang lainnya diselamatkan kapal nelayan yang berada di sekitar lokasi dan dievakuasi ke Pulau Polassi.

Selain membawa puluhan penumpang, kapal tersebut juga mengangkut hasil bumi berupa beras, kopra, dan arang dengan berat lebih dari 17 ton. Adapula enam unit sepada motor dan empat ekor sapi.

24 Orang Masih Dalam Pencarian

Namun, setelah dilakukan pendataan ulang bersama pihak terkait, jumlah penumpang dan awak kapal ternyata mencapai 70 orang. Masih ada 24 orang yang belum ditemukan, dari total tersebut terdapat 16 orang terdaftar di manifes dan 8 orang yang tidak terdaftar.

"Data awal yang kami terima menyebutkan jumlah penumpang sebanyak 50 orang. Namun setelah dilakukan verifikasi ulang bersama pihak terkait, jumlah keseluruhan orang di kapal mencapai 70 orang. Saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap 24 orang," jelas Arif.

Arif menegaskan pencarian masih terus dilakukan dengan menyisir lokasi kejadian berdasarkan perhitungan Search and Rescue Planning (Sarmap). Dia berharap seluruh korban yang masih hilang segera ditemukan.

"Kami mohon doanya, mudah-mudahan tim SAR gabungan bisa secepatnya menemukan korban yang masih dalam pencarian. Tapi data korban ini masih belum valid, karena pihak tim SAR gabungan masih menunggu informasi dari pihak keluarga," imbuhnya.

Kapal Perang TNI AL Dikerahkan

Tim SAR gabungan mengerahkan kapal perang Republik Indonesia (KRI) Marlin milik TNI Angkatan Laut (TNI AL) untuk membantu proses evakuasi KLM Nurul Salsa dan pencarian korban hilang. Pengerahan kapal perang dilakukan sebagai langkah antisipasi karena cuaca buruk dan gelombang tinggi menghambat proses penyelamatan.

"Dikerahkan KRI Marlin dari TNI AL sebagai back up. Sementara ini KRI sedang menuju lokasi," ujar Kasi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan kepada wartawan, pada Rabu (15/7).

Sultan mengatakan tim penyelamat lebih dulu mengupayakan evakuasi menggunakan perahu karet (RIB). Namun kondisi gelombang tinggi membuat upaya tersebut sulit dilakukan sehingga Basarnas meminta bantuan nelayan di Pulau Jampea untuk bergerak lebih cepat menuju lokasi kapal.

"Kami coba pakai perahu karet, tetapi karena kondisi di Selayar tidak memungkinkan, kami meminta bantuan kapal nelayan yang ada di Jampea. Mereka berangkat sekitar pukul 17.55 Wita menuju lokasi dan diperkirakan tiba sekitar pukul 23.00 Wita," katanya.

Menurut Sultan, kapal nelayan dipilih karena dapat mencapai lokasi lebih cepat dibandingkan KRI Marlin yang diperkirakan baru tiba besok pagi. Jika proses evakuasi oleh kapal nelayan berhasil dilakukan, KRI Marlin akan dipulangkan dan kembali bersiaga bantuan.

"Nelayan bisa tiba sekitar empat jam, sedangkan KRI Marlin diperkirakan baru sampai sekitar (Kamis) pukul 06.00 pagi. Kalau evakuasi berhasil dilakukan lebih dulu, KRI tetap kembali untuk memback up," jelasnya.

Operasi SAR melibatkan Tim Rescue Pos SAR Selayar, Tim Rescue Basarnas Makassar, TNI AL, KRI Marlin-877, KM Harapan Kita, BPBD Selayar, Syahbandar, SROP Selayar, Polair, serta kapal-kapal nelayan di sekitar lokasi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menyelam dan Menikmati Keindahan Warna-Warni Bawah Laut di Sulawesi"
[Gambas:Video 20detik] (hsr/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads