- Apa Itu Wabah Hantavirus?
- Proses Penularan Hantavirus ke Manusia
- Gejala Penyakit Wabah Hantavirus 1. Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) 2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
- Cara Mencegah dan Pengendalian Hantavirus
- Kasus Hantavirus di Indonesia
- Siapa yang Berisiko Terkena Penyakit Hantavirus?
Wabah hantavirus menjadi sorotan setelah dilaporkan menewaskan tiga penumpang kapal pesiar pada Mei 2026. Kasus ini memicu kekhawatiran publik, terutama karena penyakit tersebut masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat.
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), pada 2 Mei 2026 ditemukan sekelompok penumpang dengan gejala penyakit pernapasan berat di atas kapal pesiar mewah, MV Hondius, Oceanwide Expeditions yang membawa sekitar 147 penumpang dan awak. Kapal tersebut berangkat dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026 dan mengikuti rute melintasi Atlantik Selatan, dengan beberapa persinggahan di wilayah terpencil dan beragam ekologi, termasuk daratan Antartika, Georgia Selatan, Pulau Nightingale, Tristan da Cunha, Saint Helena, dan Pulau Ascension.
Hingga 4 Mei 2026, tercatat tujuh kasus, terdiri dari dua kasus hantavirus yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan lima kasus yang masih diduga. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, satu pasien dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya mengalami gejala ringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa sebenarnya Hantavirus?
Berikut detikSulsel merangkum informasi lengkap mengenai hantavirus, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara pencegahannya. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Wabah Hantavirus?
Melansir laman WHO, hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Hantavirus termasuk dalam famili Hantaviridae dalam ordo Bunyavirales.
Hantavirus memiliki single standed RNA, yang mempunyai tiga segmen, berbentuk sferikal dengan diameter 80-120 nm dan panjang mencapai 170 nm. Hantavirus beramplop sehingga tidak tahan terhadap pelarut lemak, seperti deterjen, pelarut organik, dan hipoklorit, dapat juga diinaktivasi dengan pemanasan dan sinar ultra violet.
Virus ini menyebabkan infeksi jangka panjang tanpa gejala penyakit yang tampak. Meskipun banyak spesies hantavirus telah diidentifikasi di seluruh dunia hanya sejumlah kecil yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia.
Proses Penularan Hantavirus ke Manusia
Berdasarkan tulisan dalam jurnal Wartazoa dengan judul Infeksi Hantavirus: Penyakit Zoonosis yang perlu Diantisipasi Keberadaannya di Indonesia tulisan Indrawati Sendow dkk, menyebutkan bahwa hantavirus diketahui ditularkan ke manusia melalui hewan pengerat (rodensia), seperti tikus, yang menjadi reservoir utama virus. Penularan umumnya terjadi akibat kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau paparan terhadap ekskresinya, seperti air liur, urin, dan feses.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui partikel udara (aerosol) yang berasal dari debu atau benda yang telah terkontaminasi kotoran rodensia. Ketika area yang tercemar tidak dibersihkan dengan benar, partikel virus dapat terhirup dan masuk ke dalam tubuh manusia.
Beberapa kasus, gigitan hewan pengerat yang terinfeksi juga berpotensi menjadi sumber penularan. Ektoparasit seperti kutu dan caplak juga diketahui berperan dalam penyebaran virus di antara hewan, dan berpotensi menjadi perantara penularan dari hewan ke manusia.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa penularan dapat terjadi antar hewan melalui aerosol yang berasal dari ekskresi rodensia. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti kuat yang menunjukkan penularan hantavirus dari manusia ke manusia.
Penularan secara vertikal, seperti dari ibu ke janin melalui plasenta atau air susu, juga dilaporkan tidak terjadi. Sementara itu, periode viremia hantavirus pada manusia tergolong singkat, sehingga keberadaan virus dalam darah sulit terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium.
Gejala Penyakit Wabah Hantavirus
Menyadur laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, gejala hantavirus dapat berbeda-beda tergantung pada jenis manifestasi klinis yang dialami. Secara umum, terdapat dua bentuk utama, yaitu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
1. Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Pada tahap awal, penderita HFRS biasanya mengalami gejala seperti:
- Sakit kepala hebat
- Nyeri punggung dan perut
- Demam dan menggigil
- Mual
- Penglihatan kabur
- Wajah kemerahan
- Peradangan
- Mata merah atau muncul ruam
Setelah itu, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius, antara lain:
- Tekanan darah rendah
- Syok akut
- Perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah
- Gangguan ginjal akut
2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
Sementara itu, pada kasus HPS, gejala awal yang umum dirasakan meliputi:
- Kelelahan
- Demam
- Nyeri otot, terutama di bagian paha, panggul, punggung, dan bahu
Gejala kemudian dapat berkembang menjadi:
- Batuk
- Sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru
Dalam kondisi yang lebih parah, HPS dapat memengaruhi fungsi jantung dan aliran darah. Karena itu, penyakit ini juga sering disebut sebagai Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS).
Cara Mencegah dan Pengendalian Hantavirus
Kembali melansir laman WHO, pencegahan infeksi hantavirus berfokus pada upaya mengurangi kontak antara manusia dan hewan pengerat seperti tikus. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja;
- Menutup celah atau lubang yang memungkinkan tikus masuk ke dalam bangunan;
- Menyimpan makanan di tempat yang aman dan tertutup rapat;
- Menggunakan metode pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi kotoran tikus;
- Menghindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan vacuum cleaner karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara;
- Membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan untuk mencegah partikel beterbangan;
- Rutin mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas.
Selain itu, selama terjadi wabah atau saat ada kasus yang dicurigai, langkah pengendalian menjadi sangat penting. Hal ini meliputi:
- Identifikasi dan isolasi dini pada kasus yang terinfeksi;
- Pemantauan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien;
- Penerapan protokol pencegahan dan pengendalian infeksi secara ketat.
Kasus Hantavirus di Indonesia
Kemenkes melaporkan bahwa situasi persebaran hantavirus di Indonesia, baik pada hewan maupun manusia, masih belum sepenuhnya diketahui secara pasti, meskipun sejumlah kasus telah dilaporkan.
Beberapa penelitian dan publikasi ilmiah menunjukkan adanya infeksi hantavirus, termasuk virus Seoul, pada manusia di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa virus tersebut memang sudah ada dan berpotensi menginfeksi manusia.
Selain itu, keberadaan hantavirus pada hewan pembawa (rodensia) juga telah terdeteksi melalui Hasil Riset Khusus Vektor dan Reservoir (Rikhus Vektora) yang dilakukan pada 2015 hingga 2018. Studi tersebut menemukan bahwa rodensia yang terinfeksi hantavirus tersebar di 29 provinsi di Indonesia.
Rodensia pembawa virus ini ditemukan di berbagai jenis habitat, mulai dari kawasan permukiman, lahan pertanian, hingga hutan. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi paparan hantavirus di Indonesia cukup luas, sehingga kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap perlu ditingkatkan.
Siapa yang Berisiko Terkena Penyakit Hantavirus?
Setiap orang, tanpa memandang usia, ras, kelompok etnis, maupun jenis kelamin, berpotensi terpapar hantavirus apabila melakukan kontak dengan hewan pengerat (rodensia) yang menjadi pembawa virus. Meski demikian, terdapat sejumlah aktivitas yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan, antara lain:
- Membersihkan atau membuka bangunan yang lama tidak digunakan, seperti kabin, gudang, lumbung, atau garasi
- Membersihkan rumah, terutama saat musim hujan atau cuaca dingin, ketika rodensia cenderung masuk ke dalam rumah untuk mencari tempat hangat
- Bekerja di sektor konstruksi atau sebagai petugas pengendali hama, khususnya di area sempit seperti ruang bawah lantai (crawl space) atau bangunan kosong yang berpotensi menjadi sarang tikus
- Melakukan aktivitas luar ruangan seperti berkemah atau mendaki, terutama di area yang menjadi habitat rodensia.
Aktivitas-aktivitas tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang terpapar kotoran, urin, atau lingkungan yang telah terkontaminasi oleh rodensia pembawa hantavirus.
Itulah informasi lengkap mengenai wabah hantavirus. Semoga menambah wawasan ya, detikers!
(alk/alk)











































