Sentuhan Indonesia pada Interior Masjid Istiklal di Sarajevo
Awal pembangunan Masjid Istiklal di Sarajevo diawali dengan kunjungan Presiden ke-2 RI Soeharto pada 1995. Masjid ini merupakan simbol solidaritas dan komitmen kemanusiaan Indonesia terhadap masyarakat Bosnia dan Herzegovina pascakonflik Balkan pada 1990-an. Foto: ullstein bild via Getty Images/ullstein bild
Masjid ini dirancang oleh arsitek Indonesia yaitu Achmad Noe’man. Meski pembangunannya sempat terhenti, Masjid Istiklal atau Istiklal džamija ini akhirnya diresmikan pada 2001. Foto: ullstein bild via Getty Images/ullstein bild
Interiornya memakai material kayu, terlihat pada hiasan di dinding, tangga, dan pilarnya. Tapi karena mengalami kerusakan, akhirnya ornamen kayu tersebut direstorasi. Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu
Ornamen-ornamen tersebut direstorasi oleh tiga pengukir dari Jepara yaitu Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo pada 14-19 Oktober 2026. Dulunya, ornamen tersebut juga diukir oleh pengukir Jepara. Foto: tangkapan layar Instagram @indonesiainsarajevo
Sutrisno menilai pekerjaan restorasi ini menjadi kesempatan bagi pengukir Jepara untuk kembali mengerjakan ukiran di luar negeri. Ia dan tim ingin menjaga bentuk ukiran yang sudah ada, sekaligus menyesuaikan pengerjaan dengan kondisi bagian yang mengalami kerusakan. Foto: tangkapan layar Instagram @indonesiainsarajevo
Awal mula restorasi tersebut berawal dari kunjungan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ke Bosnia dan Herzegovina pada Februari 2026. Dalam rangkaian diplomasi untuk memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, ia menemukan sejumlah ornamen Masjid Istiklal mengalami kerusakan. Ia pun menawarkan restorasi agar ornamen bisa kembali seperti sedia kala. Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu