Ibadah dan Cari Berkah di Rumah Masa Depan

Dia adalah Slamet, pria paruh baya yang memilih berprofesi sebagai pengurus rumah masa depan alias makam di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Sejak 24 tahun silam, Slamet menyelami profesinya itu. Berbekal niat ibadah dan mencari berkah ia bisa menjalani hidup di tengah belantara kota metropolitan.
Pekerjaan yang dilakukannya setiap hari yakni mulai dari menjaga, merawat dan membersihkan makam-makam orang yang sudah meninggal.
Rutinitas yang ia lakoni setiap hari adalah pengurus rumah masa depan atau biasa disebut makam. Tak sedikit dari para ahli waris yang menitipkan makam-makamnya kepada Slamet.
Ada sekitar 30 makam yang dititipkan oleh ahli waris kepada Slamet untuk dijaga rumah masa depannya.
Penghasilan yang didapatkan setiap bulannya pun tentu tak menentu. Tak ada gaji tetap, Ia hanya mendapatkan upah dari para ahli waris yang menitipkan dengan jumlah yang berbeda-beda.
Nasib baik berpihak pada Slamet, di tahun 2015 ia mendapatkan kesempatan untuk pergi Umroh sebagai hadiah dari ahli waris yang rumah masa depannya dijaga dan rawat olehnya.
Ia tak sendiri, di TPU Tanah Kusir ada kurang lebih 100 yang berprofesi sama sepertinya. Setiap hari, mereka selalu standby di makam.
Slamet tinggal bersama sang istri, Elly dan anaknya yang bernama Ratu. Ia pun berfoto bersama di kediamannya yang masih berada di sekitar kawasan Tanah Kusir.
Meskipun dalam kesehariannya selalu ia habiskan di tanah makam, hal itu tak membuatnya takut ataupun seram. Justru sebaliknya, sebagai pengingat diri bahwa ia akan mengalami kematian yang sama seperti manusia pada umumnya.
Lagi-lagi nasib baik berpihak pada Slamet. Dalam beribadah dan mencari berkah itulah ia berhasil menyekolahkan anaknya Ratu Seira (19) hingga pendidikan tinggi. Tahun ini Ratu akan memulai pendidikannya di Universitas Brawijaya, Malang.
Dia adalah Slamet, pria paruh baya yang memilih berprofesi sebagai pengurus rumah masa depan alias makam di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Sejak 24 tahun silam, Slamet menyelami profesinya itu. Berbekal niat ibadah dan mencari berkah ia bisa menjalani hidup di tengah belantara kota metropolitan.
Pekerjaan yang dilakukannya setiap hari yakni mulai dari menjaga, merawat dan membersihkan makam-makam orang yang sudah meninggal.
Rutinitas yang ia lakoni setiap hari adalah pengurus rumah masa depan atau biasa disebut makam. Tak sedikit dari para ahli waris yang menitipkan makam-makamnya kepada Slamet.
Ada sekitar 30 makam yang dititipkan oleh ahli waris kepada Slamet untuk dijaga rumah masa depannya.
Penghasilan yang didapatkan setiap bulannya pun tentu tak menentu. Tak ada gaji tetap, Ia hanya mendapatkan upah dari para ahli waris yang menitipkan dengan jumlah yang berbeda-beda.
Nasib baik berpihak pada Slamet, di tahun 2015 ia mendapatkan kesempatan untuk pergi Umroh sebagai hadiah dari ahli waris yang rumah masa depannya dijaga dan rawat olehnya.
Ia tak sendiri, di TPU Tanah Kusir ada kurang lebih 100 yang berprofesi sama sepertinya. Setiap hari, mereka selalu standby di makam.
Slamet tinggal bersama sang istri, Elly dan anaknya yang bernama Ratu. Ia pun berfoto bersama di kediamannya yang masih berada di sekitar kawasan Tanah Kusir.
Meskipun dalam kesehariannya selalu ia habiskan di tanah makam, hal itu tak membuatnya takut ataupun seram. Justru sebaliknya, sebagai pengingat diri bahwa ia akan mengalami kematian yang sama seperti manusia pada umumnya.
Lagi-lagi nasib baik berpihak pada Slamet. Dalam beribadah dan mencari berkah itulah ia berhasil menyekolahkan anaknya Ratu Seira (19) hingga pendidikan tinggi. Tahun ini Ratu akan memulai pendidikannya di Universitas Brawijaya, Malang.