Saat ini banyak pengembang yang sudah melek akan pentingnya hunian yang ramah lingkungan. Konsep bangunan berkelanjutan ini bahkan sudah diterapkan pada rumah subsidi.
Perumahan Mulia Gading Kencana (MGK) Serang merupakan salah satu perumahan subsidi yang berhasil memperoleh sertifikat Bangunan Gedung Hijau (BGH) Predikat Utama.
Lantas, apa saja standar bangunan hijau?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama Infiniti Land, Samuel S. Huang, menjelaskan bahwa proses untuk memperoleh sertifikat BGH tidak hanya melihat keberadaan ruang terbuka hijau. Terdapat sejumlah aspek yang harus dipenuhi dan melalui proses seleksi, survei, studi hingga sidang penetapan.
"Dan khusus untuk perumahan subsidi, syarat itu tidak mudah karena harga jual rumah subsidi itu sudah dipatok oleh pemerintah, sehingga dari sisi harga tidak bisa ditambahkan," ujar Samuel diskusi Punya Rumah, Punya Karir, Masih Mungkinkah? yang digelar Universitas Indonesia (UI) dan IQI Malaysia di Kampus UI Salemba, dikutip detikcom dari keterangan pada Rabu (26/2026).
1. Pengelolaan Rumah Tapak
Salah satu aspek yang dinilai adalah bagaimana kawasan perumahan dirancang dan dikelola. Pengelolaan tapak tidak hanya berkaitan dengan bangunan rumah, tetapi juga bagaimana kawasan mampu mengelola air dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam pembangunan MGK Serang perumahan menyediakan fasilitas kolam retensi atau retention pond. Fasilitas ini berfungsi sebagai area penampungan air hujan sekaligus membantu mengendalikan aliran drainase di kawasan perumahan.
"Kami siapkan lebih dari 2 hektar lahan untuk menampung air hujan dan limbah air rumah tangga, sebelum berproses dan sesuai standar untuk disalurkan ke sungai," jelas Samuel.
Keberadaan kolam retensi menjadi bagian penting dalam pengelolaan air kawasan, terutama untuk mengurangi risiko genangan ketika curah hujan tinggi.
2. Efisiensi Penggunaan Energi
Bangunan hijau juga menitikberatkan pada bagaimana energi digunakan secara efisien. Pada rumah penerapannya dapat dilakukan melalui pemilihan perangkat hemat energi, desain bangunan yang mengoptimalkan pencahayaan, dan sirkulasi udara alami.
MGK Serang sendiri menggunakan lampu LED di setiap rumah. Selain itu, desain ketinggian plafon juga diperhitungkan untuk membantu sirkulasi udara.
"Untuk sirkulasi udara dan pencahayaan di dalam rumah, plafon rumah (ceiling) ruang tamu kami buat setinggi 3,5 meter dan ceiling kamar setinggi 2,8 meter," sebut Samuel.
Menurutnya, desain tersebut diharapkan membuat udara di dalam ruangan lebih sejuk sehingga penggunaan pendingin udara dapat ditekan. Jika penghuni tetap membutuhkan AC, kapasitas yang diperlukan juga relatif kecil.
Dengan demikian, konsep efisiensi energi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga bagaimana desain rumah dapat mengurangi kebutuhan energi sejak awal.
3. Efisiensi Penggunaan Air
Aspek berikutnya yang dipertimbangkan adalah efisiensi penggunaan air. Pengelolaan air menjadi bagian penting dari konsep bangunan berkelanjutan karena berkaitan langsung dengan penggunaan sumber daya dan kebutuhan sehari-hari penghuni.
MGK Serang menggunakan air PAM untuk memenuhi kebutuhan air penghuni. Penggunaan sumber air yang dikelola secara terpusat tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya pengelolaan sumber daya air di kawasan.
Di sisi lain, keberadaan kolam retensi juga mendukung sistem pengelolaan air kawasan, terutama dalam menampung limpasan air hujan.
4. Kualitas Udara di Dalam Ruangan
Sirkulasi udara dan pencahayaan alami menjadi bagian penting. Desain rumah perlu memperhatikan bagaimana udara dapat bergerak dan cahaya alami dapat masuk ke dalam ruangan.
Penerapan ceiling dengan ketinggian hingga 3,5 meter di ruang tamu dan 2,8 meter di kamar menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk mendukung kondisi tersebut.
5. Penggunaan Material Ramah Lingkungan
Material yang ramah lingkungan juga tidak boleh ketinggalan. Pengembang MGK Serang menyebut yang satu ini menjadi tantangan tersendiri bagi rumah subsidi karena biaya.
Biaya pembangunan rumah subsidi berbeda dengan rumah komersial karena harga maksimalnya telah ditetapkan oleh pemerintah. Sementara beberapa material ramah lingkungan harganya cukup mahal. Oleh karena itu perlu diseimbangkan dari segi modal dan standar kualitas yang ingin dicapai.
Efisiensi material juga berkaitan dengan pengawasan di lapangan agar material yang digunakan sesuai kebutuhan dan tidak banyak terbuang.
6. Pengelolaan Sampah
Konsep bangunan hijau juga mencakup bagaimana sampah yang dihasilkan dari kawasan perumahan dikelola.
Pengelolaan sampah menjadi penting karena hunian bukan hanya terdiri dari bangunan, melainkan sebuah lingkungan tempat masyarakat melakukan aktivitas setiap hari.
Karena itu, aspek pengelolaan kawasan perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan agar persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab penghuni setelah rumah ditempati.
7. Pengelolaan Limbah
Aspek terakhir berkaitan dengan pengelolaan limbah, khususnya limbah rumah tangga.
Pengembang MGK Serang menyediakan bio septic tank sebagai bagian dari sistem pengelolaan limbah rumah tangga. Sistem tersebut ditujukan agar limbah domestik dapat dikelola dengan lebih baik dan tidak langsung mencemari lingkungan.
Pengelolaan limbah juga terintegrasi dengan sistem kawasan yang dirancang untuk mengolah air sebelum akhirnya dialirkan ke lingkungan sesuai standar.
Bukan Sekadar Rumah Murah
Ketujuh aspek tersebut menunjukkan bahwa konsep bangunan hijau tidak semata-mata berkaitan dengan tampilan bangunan atau banyaknya tanaman di sebuah kawasan.
Ada aspek yang menyangkut penggunaan energi, air, kualitas udara, material, sampah hingga limbah. Seluruhnya berkaitan dengan bagaimana sebuah hunian dapat beroperasi secara lebih efisien sekaligus memberikan lingkungan yang lebih nyaman bagi penghuninya.
Menurutnya penerapan standar tersebut di rumah subsidi memiliki tantangan tersendiri. Harga jual rumah telah ditentukan pemerintah sehingga pengembang memiliki ruang yang terbatas untuk menaikkan harga ketika biaya pembangunan meningkat.
Samuel menyebut biaya produksi untuk membangun rumah dengan sertifikat BGH Predikat Utama dapat lebih tinggi sekitar 8-12 persen dibandingkan rumah biasa.
"Ada komitmen dan perjuangan yang harus dijalankan sungguh-sungguh untuk meraih sertifikat Bangunan Gedung Hijau, mengingat biaya produksi untuk membangun rumah bersertifikat BGH predikat utama itu lebih tinggi 8-12 persen dari membangun rumah biasa. Tetapi karena visi-misi kami adalah membangun dengan hati, maka sangat bersyukur semua ini bisa diraih," ungkapnya.
Dengan demikian, keberadaan rumah subsidi berstandar bangunan hijau menunjukkan bahwa konsep hunian berkelanjutan tidak harus selalu identik dengan hunian mahal.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana standar kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan tersebut dapat diterapkan secara lebih luas pada pembangunan rumah terjangkau, sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tidak hanya mendapatkan rumah dengan harga yang sesuai kemampuan, tetapi juga hunian yang sehat, nyaman, dan memiliki pengelolaan lingkungan yang baik.
