Jika ingin membeli rumah tapak, penentuan harganya umumnya berdasarkan lokasi dan luas bangunannya. Lantas, apakah hal ini juga berlaku dengan rumah vertikal seperti apartemen?
Penentuan harga apartemen berbeda dengan rumah tapak. Beberapa kelas apartemen juga menentukan harga berdasarkan letak lantainya. Semakin tinggi lokasi unitnya, harganya semakin mahal. Menurut pengamat properti dan Direktur PT Global Asset Management Steve Sudijanto sebagian besar unit dari apartemen kelas A dan B yang sifatnya baru atau primer menerapkan sistem ini. Untuk lebih jelasnya, berikut cara penentuan harga unit apartemen masing-masing kelas.
1. Apartemen Grade A
Mengingat apartemen grade A merupakan kelas tertinggi dan paling mahal, tentu unit di paling atas merupakan yang paling mahal karena biasanya paling atas adalah penthouse.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di kasta grade A apartemen itu semakin tinggi, semakin mahal. Karena lokasi apartemen grade A itu biasanya di pusat bisnis, seperti Sudirman, Thamrin, dan juga di Kebayoran Baru, Senopati, SCBD, itu mahal," kata Steve kepada detikcom pada Selasa (3/3/2026).
2. Apartemen Grade B
Apartemen grade B juga menganut sistem harga serupa, semakin tinggi, semakin mahal. Namun, penentuannya bukan hanya soal lantai, masing-masing tower juga bisa berbeda-beda harganya. Apabila tower tersebut memiliki fasilitas paling lengkap, seperti dekat dengan gym, pintu keluar, kolam renang, atau cafΓ©, harga unit di tower itu bisa jadi lebih mahal.
3. Apartemen Grade C
Beberapa apartemen kelas C yang jumlah lantainya banyak juga memberlakukan hal yang sama. Namun, pada apartemen kelas C apabila membeli bekas orang lain atau unit sekunder, biasanya apartemen di lantai bawah justru yang lebih mahal.
Hal ini disebabkan ada kecenderungan masyarakat lebih nyaman jika unitnya berada dekat dengan pintu keluar gedung. Ada kekhawatiran jika berada di atas, akan sulit menyelamatkan diri ketika situasi darurat. Selain itu, unit yang berada di lantai-lantai bawah juga mempermudah lansia untuk naik dan turun.
"Jadi kalau apartemen yang nggak primary, yang beli secondary itu bekas ya, udah pernah dijual terus dijual lagi. Itu lantai bawahnya itu yang tinggi harganya karena dekat ke fasilitas kolam renang, coffee shop itu senang tuh (pembeli). Apalagi yang punya manula (manusia lanjut usia, red), nggak suka tinggi-tinggi, kalau liftnya mati kan harus digendong," jelasnya.
Itulah penjelasan mengenai penentuan harga unit apartemen berdasarkan lantai, semoga membantu.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(aqi/zlf)











































