Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengumumkan pembangunan rumah susun (rusun) subsidi di Meikarta ditargetkan akan rampung pada Agustus 2028. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI, di Senayan, Jakarta.
"8 Maret akan pasang tiang pancang. Agustus sudah naik ke atas (bangunan fisik). Agustus 2028 sudah bisa menyerahkan," kata Ara pada Selasa (10/2/2026).
Nantinya rusun subsidi Meikarta akan di bangun di 3 titik lahan yang masing-masing memiliki luasnya 10 hektare. Ia menyatakan tanah di Meikarta tersebut merupakan hibah sehingga negara tidak mengeluarkan anggaran sepersen pun untuk lahannya. Ada pun, tanah tersebut semula merupakan milik PT Lippo Cikarang Tbk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau bicara kreativitas, kita sampaikan secara terbuka tanahnya 30 hektare hibah. Negara mendapatkan hibah. Jadi negara tidak mengeluarkan uang untuk tanahnya," ungkapnya.
Setiap titik akan dibangun 18 tower yang setiap towernya terdiri dari 2.600 unit. Berarti akan ada 141.000 unit tersedia di sana. Tipe kamar terdiri dari kamar 1, kamar 2, dan kamar 3. Ukurannya ada yang 25, 35, hingga 45 meter persegi. Berarti akan ada 141.000 unit tersedia di sana.
"Jadi ini akan menjadi ekosistem yang baik di kawasan itu," ujarnya.
Ara memastikan pembangunan rusun subsidi ini sudah clean and clear, bahkan ia telah melakukan konfirmasi hal tersebut langsung ke KPK. Terkait mekanisme pembangunannya, Kementerian PKP akan berkoordinasi dengan Danantara.
"Bagaimana pembangunannya, saya sudah dapat arahan untuk berkoordinasi dengan Pak Rosan, Danantara. Saya sudah rapat, bagaimana pembiayaannya. Bagaimana tanahnya hibah dan saya sudah cek tanahnya," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, Ara sempat ditanya dalam agenda Land Clearing Rumah Susun Subsidi Meikarta, Kamis (29/1/2026) mengenai apakah 2028 seluruh kawasan selesai dibangun atau hanya satu kawasan saja. Pada saat itu, ia tidak menjawabnya secara lugas. Ia berkata akan mengkaji demand-nya termasuk skema subsidinya terlebih dahulu.
"Saya rasa ini nilai investasinya untuk satu kawasan bisa Rp 13 triliun di luar tanah. Berarti kalau tiga (kawasan) Rp 39 triliun, kurang lebih begitu," ujarnya.
(aqi/das)










































