Tidak ada yang mengira di dalam hutan tropis terbesar di dunia, ada bangunan terbengkalai bak batu nisan raksasa. Bangunan ini menjulang tinggi menembus padatnya rimbunan pohon dan tanaman yang tumbuh subur di dalamnya.
Dilansir Express, bangunan tersebut awalnya akan digunakan sebagai hotel mewah kelas atas. Namun, rencana tersebut kini hanya angan-angan.
Hotel bernama Gávea Tourist Hotel ini dibangun di tengah hutan karena konsep awalnya adalah butik (boutique hotel) yang bergaya modis dan berkarakter, sehingga dapat memikat para turis yang ingin menginap dengan suasana berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rahasia dari Gávea Boutique Hotel adalah pemandangannya yang menakjubkan dan lingkungan yang unik. Saya dapat mengatakan bahwa hanya sedikit tempat di dunia yang menawarkan pemandangan seperti ini," kata anggota dewan pengurus baru Gávea Residence and Corporations Marcos Cumagai seperti dikutip pada Kamis (15/1/2026).
Sekeliling hotel ini adalah Hutan Tijuca, Rio de Janeiro. Pemandangan bangunan jika dilihat dari atas adalah lautan mengarah ke Samudra Atlantik.
Bangunan yang dijuluki 'Hotel Kerangka' ini telah berdiri sejak 1953 dan seharusnya jika proyeknya jalan, hotel itu akan siap beroperasi di tahun yang sama. Namun, setelah 70 tahun atau 7 dekade bangunan ini tetap dibiarkan sekarat di tengah hutan.
Kondisinya saat ini hanya tinggal kerangka beton tanpa kulit. Bagian luar bangunan tersebut masih berupa beton eskpos dan tidak ditutup jendela dari ujung ke ujung. Di bagian dalam, terdapat 270 anak tangga yang mengarah ke 16 lantai yang sudah terbangun. Rencananya akan ada 440 kamar.
Berdiri di lahan seluas 30.000 meter persegi, Gávea Tourist Hotel mulai ditinggalkan pada 1970-an karena perusahaan tersebut bangkrut. Usaha penyelamatan sempat terdengar pada 2011 bahwa pemerintah setempat ingin melanjutkan pembangunannya. Berbicara kepada G1, Marcos Cumagai, anggota dewan pengelola baru Gávea Residence and Corporations, mengungkapkan mereka ingin mengambil alih.
Mereka sempat ragu untuk melanjutkan pembangunan, tetapi akhirnya tetap dilanjutkan sampai membersihkan area gedung dan penutupan area dari orang luar. Sebab, sebelum mereka turun tangan, banyak wisatawan datang dan masuk ke dalam gedung untuk menikmati pemandangan.
"Kami menutup area tersebut, tetapi meskipun begitu, wisatawan dan pengagum alam muda tetap menyerbu tempat itu selama akhir pekan," ujarnya.
Meskipun tidak pernah selesai dibangun, tempat ini pernah digunakan. Pada tahun 1965, hotel ini menjadi tempat penyelenggaraan pesta tahun baru yang megah dan sebuah klub malam bernama Sky Terrace pernah beroperasi di sana.
"Menurut saya, sekitar tahun 70-an atau 80-an, ada klub malam di sini. Mereka mengadakan beberapa pesta di atap. Itu berlangsung sekitar satu tahun, dan kemudian ditutup secara permanen," ujar Cumagai.
Kabar baiknya, menurut pernyataan mereka pada 2023 lalu, tahun ini mereka berencana membuka kembali hotel tersebut dengan nama Gávea Boutique & Extended Stay Hotel.
Fasilitasnya akan terdiri dari akomodasi jangka panjang serta kamar hotel, dengan tujuan menawarkan gaya butik. Namun, belum ada kabar terbaru mengenai waktu pembangunan dan konsepnya.
(aqi/das)










































