Gedung Flatiron New York City sudah bertransformasi jadi apartemen. Hunian itu akan segera dijual pada musim gugur ini, namun sepertinya cuma orang have alias orang super kaya yang bisa beli
Dilansir dari The Guardian, sebagai bangunan residensial, harga apartemen ini begitu fantastis. Harganya bisa mencapai US$ 58,5 juta atau sekitar Rp 1,048 triliun (kurs Rp 17.927) untuk tipe penthouse.
Dengan nominal segitu, pembeli mendapatkan apartemen berisi lima kamar tidur dan lima kamar mandi. Kemudian, ada ruang sauna, dua ruang pakaian, ruang makan, ruang sarapan, serta ruang utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terdapat 36 apartemen di gedung tersebut. Sebanyak 14 apartemen di Flatiron sudah dalam proses kontrak, menurut agen properti Corcoran.
Apartemen termurah ada di lantai tiga dan bisa dibeli seharga US$ 10,95 juta atau Rp 196 miliar. Unit ini memiliki tiga kamar tidur, tiga kamar mandi dengan dapur ruang keluarga, dan dua ruang pakaian.
Apartemen di Flatiron Building. Foto: via Broadsky |
Salah satu unit ada yang berisi 4 kamar tidur dan 4 kamar mandi. Penggunaan bahan marmer banyak ditemukan di kamar mandi serta baja di dapur.
Mitra pengelola Brodsky Organization, Daniel Brodsky mengatakan membeli bangunan bersejarah bisa menimbulkan banyak keraguan. Namun di sisi lain, bangunan seperti ini memiliki karakter istimewa yang membuatnya 'worth it' buat dibeli.
"Ada sekelompok orang kaya yang ingin berada di tempat yang nyaman; transportasi yang bagus, restoran terbaik di kota, taman... ini adalah tempat yang sangat mudah untuk ditinggali. Anda dikelilingi oleh kesejukan," ucap Brodsky dikutip dari The Guardian, Rabu (5/8/2026).
Bangunan legendaris ini pertama berdiri pada 1902 bangunan. Arsitektur itu menyita perhatian karena desainnya yang unik. Dari atas, bangunan terlihat seperti setrika zaman dulu.
Flatiron dirancang oleh Daniel Burnham, arsitek beken pada zamannya. Nah awalnya gedung ini disebut Fuller Building tapi rencananya gagal. Eh, bangunan lebih mirip setrika atau 'Flatiron'.
Saking uniknya, bangunan berbentuk segitiga ini menjadi favorit wisatawan dan warga lokal.
Tak selalu positif, beberapa masyarakat tak menyukai gedung itu. Bangunan ini dianggap sebagai jebakan maut, pengganggu yang menciptakan arus angin yang dapat mengangkat rok pejalan kaki, serta ruang komersial. Ada pula orang yang takut gedung itu akan jatuh karena bentuknya sangat ramping.
(dhw/das)

