47 Tahun Menulis, Seno Gumira Ajidarma Terbitkan Buku Antologi
Selama 47 menulis, novelis berusia 67 tahun itu menyelami cerita tentang cinta, kesepian, dan realitas sosial. Ada sejumlah cerpen yang ditulis ulang, ada tulisan yang sesuai dengan konteks sosial dan historis zamannya.
Pria yang akrab disapa SGA mengatakan edisi pertama antologinya pernah terbit di 2013, namun 13 tahun berikutnya rilis dengan edisi yang lebih lengkap.
"Cukup lumayan lama ya 13 tahun, apa yang tercapai selama waktu 13 tahun itu ada cerpen tambahan. Perkembangannya, perubahannya, jadi kayak suatu arkeologi ya, sudah bisa selama itu. Ya, hampir 50 tahun nulis cerpen," ungkap Seno saat peluncuran bukunya, Jumat malam (22/5/2026).
Baca juga: 5 Novel Horor Bakal Buat Kamu Bergidik Ngeri |
Hampir lima dekade berkarier sebagai penulis, sembari berkelakar profesi itu bukan karier baginya. Tapi ia menegaskan menulis itu seperti berkarya.
"Kalau karier itu, ya kasihan bener. Saya hidup saja, di antara kehidupan ya saya menulis," terangnya.
Bahkan ia cerita jika kejadian yang baru-baru ini, cerpennya sempat ditolak dan gak lolos dari ruang redaksi. "Kemarin saja ditolak, jangan berpikir terus (karena SGA) wah pasti masuk gitu. Makanya saya juga perlu mengecek, apa iya sejelek itu cerpen saya di kolom sastra. Tapi saya senang, gak apa-apa gak masuk. Saya selalu bermimpi dulu kalau jadi penulis itu pasti masuk, apalagi jadi redaktur. Karena moralnya, kalau jadi redaktur kasih tempat sama orang," kata Seno tertawa.
Buku Antologi Senja dan Cinta yang Berdarah Edisi 2 Foto: Tia Agnes/detikcom |
Dari puluhan cerpen yang ada di dalam buku antologinya, Seno cerita kritik-kritik sosial pada masanya itu memang sengaja dibalut dengan fiksi. Ia berpikir gimana masyarakat peduli dan tahu dengan isu yang terjadi selain di Jakarta tanpa menghakimi.
Di momen itu, Seno kerap merasa marah dengan banyak hal yang terjadi khususnya di Timor Timur (dahulu dikenal sebagai Timor Leste).
"Jadi kalau ditanya, apa sih ide buat cerpen saya. Saya tuh merasa marah, gimana caranya orang ngerti tanpa bisa mencecar saya. Itu pengalaman saya dapatkan dari Timor Timur. Tapi lama-lama sih Kompas jangan deh, lama-lama semua koran ngomong 'sory, dek'. Bahkan yang saya tulis bukan soal itu (kritiknya)," ujar Seno.
Saat berbagai peristiwa yang terjadi di Timor Timur melanda, saat itu Seno menjadi redaktur di sebuah media massa. Ia membawahi dua wartawan perempuan, yang menurutnya, lolos seleksi untuk meliput ke wilayah konflik tersebut. Ketika membaca hasil tulisan mereka, Seno langsung tersentuh dan memuatnya agar publik bisa tahu situasi yang terjadi di sana.
Menurut Seno, buku antologi ini perlu dibaca bagi masyarakat Indonesia. Ia menyebutkannya sebagai sebuah 'cermin'.
"Kenapa masih perlu ada sastra, sastra itu dunia alternatif. Kita kalau hidup tanpa alternatif, kasihan bener. Kurang suksesnya kayak gitu, apalagi sekarang kesuksesan itu seperti berhala," pungkasnya.
Tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma dikenal tajam, kritis, dan berani bersuara mengenai realitas sosial dan politik. Sejak tahun 1977, ia bekerja sebagai wartawan. Salah satu jargon perlawanan terpopuler miliknya adalah 'Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara.'
Sepanjang karier menulisnya, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku. Di antaranya adalah Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Sepotong Senja untuk pacarku, kumpulan cerpen bertema Timor Timur berjudul Saksi Mata, Negeri Senja, Wisanggeni - Sang Buronan.
Ia juga meraih berbagai penghargaan bergengsi seperti SEA Write Award (1997) dan Dini O'Hern Prize for Literary (1997), serta sejumlah penghargaan sastra lokal seperti Khatulistiwa Literary Award dan Cerpen Terbaik Kompas. SGA pernah menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) periode 2016 sampai 2020.
(tia/dar)












































