Skandal Komikus Pelaku Pelecehan Seksual Terbongkar, Ini Kronologinya
Tim editorial menuai kontroversi setelah mengizinkan komikusnya untuk merilis manga baru di laman ONE dengan nama samaran. Padahal Shōichi Yamamoto yang punya nama pena Tatsuya Matsuki dihukum karena kasus kejahatan seksual.
Seminggu setelah diberitakan, Shogakukan mengaku telah melakukan investigasi internal. Mereka menemukan fakta dari tim investigasi dan verifikasi pencipta asli manga Seisō no Shinri-shi yang saat ini tayang di layanan Manga ONE adalah Miki Yatsunami. Dia ternyata adalah nama pena dari penulis manga Act-Age, Tatsuya Matsuki.
Tatsuya Matsuki ditangkap dan didakwa atas tuduhan melakukan tindakan senonoh secara paksa terhadap siswi pada tahun 2020.
Tim eksternal juga dibuat dan memutuskan karya-karyanya telah dibatalkan di layanan tersebut. Mereka juga memeriksa editor, menyelidiki penyebabnya, dan memberikan rekomendasi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Departemen editorial Manga ONE juga menjelaskan bagaimana pencipta asli manga Seisō no Shinri-shi, Miki Yatsunami, diangkat, termasuk detail kasusnya, dengan persetujuannya. Ini kronologinya:
Pada 29 Agustus 2024, editor di Manga ONE meminta pertemuan dengan seseorang yang memiliki akun X dengan nama Tatsuya Matsuki. Esok harinya, Matsuki kirim email ke editor dan kasih tahu sedang menulis novel Yūsha Ikkō no Shinri Counselor, yang akhirnya diterbitkan jadi manga Seisō no Shinri-shi saat ini.
Dengan persetujuan pemimpin redaksi saat itu, editor tersebut mengadakan pertemuan tatap muka pertama dengan Matsuki di Tokyo pada tanggal 6 September 2024. Departemen editorial mengatakan mereka pertama-tama mengkonfirmasi hukuman Matsuki telah diselesaikan dan masa hukuman percobaannya telah berakhir.
Matsuki juga ngaku menyesali kejadian tersebut dan berupaya untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. FYI, dia dijatuhi hukuman 3 tahun bui namun jika berperilaku baik selama 3 tahun, maka ia gak akan menjalani hukuman penjara.
Di momen itu, Matsuki juga khawatir kalau memakai nama pena lamanya dan membangkitkan kenangan lama akan insiden tersbeut. Shogakukan menyatakan nama pena Miki Yatsunami awalnya dipilih dengan mempertimbangkan para korban.
Editor melaporkan hasil meeting kepada pemimpin redaksi dan mendapat persetujuan. Yatsunami dan editor mulai berkomunikasi dengan tujuan menerbitkan karyanya di Manga ONE. Hanya sejumlah kecil orang di departemen editorial yang mengetahui fakta tentang Yatsunami.
Shogakukan menyatakan Yatsunami telah menerima konseling psikologis sejak insiden tersebut, dan psikolog yang bertanggung jawab atas dirinya telah menentukan perawatan dan rehabilitasi mentalnya.
Shogakukan juga mengklarifikasi telah menjelaskan situasi Yatsunami/Matsuki kepada ilustrator manga tersebut, Kaoru Yukihira. Yukihira juga telah diberi tahu tentang risiko yang mungkin terjadi jika kebenaran terungkap ke publik, dan Yukihira tetap memutuskan untuk mengerjakan manga tersebut.
Flashback ke tahun 2020, Pengadilan Distrik Sapporo mengeluarkan putusan dalam kasus perdata yang memerintahkan seorang pria untuk membayar ganti rugi sebesar 11 juta yen (sekitar US$ 71.000) kepada wanita berusia 20-an, yang mengklaim Yamamoto berulang kali melakukan pelecehan seksual terhadapnya.
Ia memperkosa dan memanfaatkan korban saat korban bersekolah di SMA jarak jauh di Sapporo dan saat pelaku masih menjadi guru di sekolah tersebut. Korban awalnya mengajukan gugatan perdata pada Juli 2022. Menurut media lokal berbasis di Okayama, terdakwa bernama Shōichi Yamamoto, adalah orang yang sama dengan pencipta manga seri Daten Sakusen.
Yamamoto mulai menerbitkan Daten Sakusen secara serial di Manga ONE pada Februari 2015. Manga tersebut hiatus pada Februari 2020, dan dihapus dari Manga ONE pada Oktober 2022.
(tia/mau)











































