Strategi Baru Netflix dan Archewell: Pergeseran ke Solo Karier Meghan Markle

Asep Syaifullah
|
detikPop
NEW YORK, NEW YORK - APRIL 23: Prince Harry, Duke of Sussex and Meghan, Duchess of Sussex attend the Time100 Summit at Jazz at Lincoln Center in Midtown on April 23, 2025 in New York City. (Photo by TheStewartofNY/GC Images)
Foto: GC Images/TheStewartofNY
Jakarta - Memasuki 2026, peta kerja sama antara Netflix dan pasangan Sussex, Pangeran Harry dan Meghan Markle, dilaporkan telah mengalami transformasi besar.

Setelah beberapa proyek naskah film dan serial gagal terwujud, kedua belah pihak kini mengalihkan fokus pada kekuatan personal Meghan Markle sebagai ikon budaya dan pengusaha, melalui kesepakatan baru yang bersifat lebih fleksibel.

Laporan terbaru dari Variety (18/3) menyoroti, peran Pangeran Harry dalam konten layar kaca mulai berkurang pasca serial dokumenter "Polo" pada 2024.

Sebaliknya, Netflix kini lebih bertaruh pada pengaruh komersial Meghan. CEO Netflix, Ted Sarandos, memberikan pembelaan kuat terhadap potensi besar sang Duchess sebagai penggerak tren global.

Dalam sebuah pernyataan, Sarandos menekankan betapa besarnya dampak publik yang dihasilkan oleh Meghan:

"Saya pikir pengaruh Meghan terhadap budaya sering kali diremehkan. Saat kami merilis cuplikan serial dokumenter 'Harry & Meghan', setiap detail di layar dibedah oleh media selama berhari-hari. Sepatu yang ia kenakan hingga selimut Hermès di latar belakang terjual habis di seluruh dunia."

Sarandos juga menambahkan, pasangan tersebut sering kali "diremehkan secara berlebihan" oleh publik dan industri.


Pada Agustus tahun lalu, pasangan Sussex menandatangani pakta baru dengan Netflix. Kesepakatan eksklusif mereka kini diturunkan menjadi first-look deal-sebuah langkah yang menurut sumber internal merupakan hal lumrah bagi tokoh besar, serupa dengan kontrak yang dimiliki keluarga Obama.

Netflix kini juga bertindak sebagai mitra pasif bagi brand gaya hidup Meghan, As Ever. Kerja sama ini dianggap sebagai eksperimen besar bagi Netflix yang mulai merambah dunia ritel.

Kesuksesan awal terlihat saat program "With Love, Meghan" berhasil menembus daftar Top 10 Netflix, yang secara langsung mendukung penjualan lini produknya.

Namun, di balik kesuksesan komersial tersebut, laporan ini mengungkap adanya gesekan dalam proses kerja sama. Beberapa sumber internal di Netflix menyebutkan adanya ketidaknyamanan terkait cara berkomunikasi pasangan tersebut dalam rapat-rapat produksi.

Muncul klaim, Meghan cenderung mendominasi percakapan dan sering kali menginterupsi pemikiran Pangeran Harry dalam pertemuan profesional.

Tuduhan ini segera mendapatkan tanggapan keras dari tim hukum pasangan Sussex. Pengacara Meghan, Michael Kump, menyatakan dalam suratnya bahwa klaim tersebut tidak berdasar:


"Pernyataan ini tampak sengaja dirancang untuk memainkan karakterisasi misoginis yang menggambarkan klien kami seolah-olah mengatur suaminya secara berlebihan."

Pangeran Harry secara pribadi, memberikan kesaksian bahwa tuduhan mengenai dinamika komunikasi mereka tersebut adalah "sama sekali tidak benar."

Meski diwarnai dengan tantangan interpersonal dan perubahan skema kontrak, dukungan resmi dari petinggi Netflix seperti Ted Sarandos dan Bela Bajaria menunjukkan, perusahaan tersebut masih menaruh harapan besar pada nilai jual brand Sussex, terutama dalam ranah gaya hidup dan kewirausahaan.


(ass/wes)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO