Museum of Innocence Diadaptasi ke Series Netflix, Bukan Sekadar Novel Biasa

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Novel Museum of Innocence Orhan Pamuk
Foto: Istimewa
Jakarta - Netflix baru saja menayangkan series 9 episode garapan Turki, Museum of Innocence. Bukan sembarang serial, ceritanya diadaptasi dari novel penulis peraih Nobel, Orhan Pamuk yang terbit pertama kalinya April 2012.

Museum of Innocence atau dalam bahasa Turki Masumiyet Müzesi terinspirasi dari kisah cinta seorang pengusaha kaya raya bernama Kemal. Pria berusia 30 tahun itu punya kenangan obsesif terhadap kekasihnya, Füsun.

Perempuan cantik berusia 18 tahun itu adalah sepupu jauh dari Kemal, namun punya status yang berbeda dari Kemal. Kisahnya berlatar belakang di Istanbul, Turki, selama rentang waktu 1975-1984.

Di episode pertama, Kemal tua terlihat sedang berbincang dengan Orhan Pamuk dan menceritakan satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya. "Itu adalah masa kebahagiaan sepanjang hidupku," kata Kemal kepada Orhan Pamuk di dalam museum yang dibangunnya.

Kisah pun flashback ke masa lalu saat Kemal berusia 30 tahun dan Füsun yang 12 tahun lebih muda. Keduanya bertemu di sebuah toko kecil dan jatuh cinta pada pandangan utama. Tapi kenyataan berkata berbeda, Kemal harus bertunangan dengan Sibel yang berasal dari keluarga kaya dan status yang setara.

Di satu sisi, ia terobsesi terhadap Füsun yang cantik dan tengah belajar masuk ke universitas. Di hari setelah pertunangan Kemal, Füsun menghilang. Kemal menunggu 9 tahun tanpa kabar dan sebuah kecelakaan membuat nasib keduanya berbeda.

Ini adalah kisah romantisme yang dipuji-puji oleh kritikus sastra dan melambungkan nama Orhan Pamuk. Ceritanya menyoroti perubahan sosial, budaya, dan gaya hidup masyarakat kelas atas Istanbul pada paruh kedua abad ke-20.

Banyak kritikus yang memuji novelnya sebagai salah satu ide kreatif paling berani. Faktanya, di bangunan rumah kayu abad ke-19 yang telah direnovasi memang ada sebuah museum tersebut yang menyimpan lebih dari 1.000 artefak, mulai dari puntung rokok (terpajang 4.213 puntung), pakaian, jepit rambut, hingga botol minuman yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dan barang-barang yang disentuh oleh karakter Füsun.

Dilansir oleh BBC, Orhan Pamuk yang menerima Nobel Sastra untuk novel-novelnya termasuk My Name is Red (1998) dan Snow (2002) memulai project rahasia yang digarapnya berbarengan dengan buku. Orhan Pamuk mengumpulkan barang-barang yang sudah gak terpakai: foto-foto tua, pengupas buah, heels seorang perempuan sampai anting.

"Saya ingin mengumpulkan dan memamerkan benda-benda 'nyata' dari sebuah cerita fiksi dari sebuah museum dan menulis sebuah novel yang berdasarkan barang-barang itu," tulis Pamuk di The Innocence of Objects, buku petunjuk museum, seperti dilansir dari BBC.

Orhan Pamuk ngaku dia gak tahu akan seperti apa jadinya museum tersebut. "Saya juga gak tahu seperti apa novelnya. Tetapi saya merasa fokus diri pada barang-barang dan mengisahkan cerita lewat mereka akan membuat tokoh protagonis saya berbeda dari tokoh-tokoh di novel-novel Barat lebih nyata, lebih berdasarkan pada Istanbul."



(tia/wes)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO