Situs Manga Ilegal Terbesar di Dunia Tutup Pekan Ini, Kerugian sampai Rp 82 T

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Portrait of a teenage girl on a rooftop. Reading a comic. Enjoying the sunset.
Foto: Getty Images/portishead1
Jakarta - Selama satu dekade terakhir, berbagai situs manga ilegal mulai ditutup dan dilaporan secara resmi ke pihak berwajib. Kini, salah satu web pembajakan manga yang terbesar di dunia Bato.to dipastikan resmi tutup pekan ini.

Selama ini, Bato.to diketahui sebagai situs manga ilegal yang banyak diakses oleh pembaca manga di seluruh dunia. Laporan ini mencuat setelah organisasi industri Jepang Content Overseas Distribution Association (CODA) melaporkan kalau operatornya sudah ditinggal di China pada 19 November 2025.

Pihak berwajib di China memeriksa rumah seorang pria yang kawasan Guangxi Zhuang. Operator itu terjerat dugaan pelanggaran hak cipta. Tersangka mengaku jadi operator Bato.to dan 60 situs manga ilegal lainnya.

Laporan ini bermula dari Juli 2024 saat lima penerbit manga melakukan pertemuan. Mereka yang meeting adalah Kadokawa, Kodansha, Shueisha, Shogakukan, dan Square Enix.

CODa pun mengajak sejumlah pihak berwajib dari China, khususnya China Literature Limited anak perusahaan dari Tencent Holdings buat kerja sama.

Dari data CODA, dipastikan lebih dari 1.000 judul komik dari lima penerbit tersebut dibajak. Bato.to merekam 350 juta site visit secara kumulatif. Sejak Oktober 2022 sampai Oktober 2025, ada 7,2 miliar visit.

Setiap manga, aksesnya senilai 107 yen, dan diprediksi merugikan kelima penerbit sampai 770 miliar yen atau Rp 82,6 triliun.

Dari penelusuran CODA juga disebutkan situs Bato.to memperoleh manga secara ilegal pakai metode yang dikenal dengan scanlation. Metode untuk memindai dan menerjemahkan komik itu dilaporan punya sampai 50 bahasa. Bato.to juga sudah diakses sampai 350 juta kali per-bulan.




(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO