Berawal dari Ingin Ngopi Gratis, Barista Pontianak Juarai Kompetisi Brewing

Kalimantan Barat

Berawal dari Ingin Ngopi Gratis, Barista Pontianak Juarai Kompetisi Brewing

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Senin, 20 Jul 2026 21:06 WIB
Nova Dwi Fitriana, perempuan barista Pontianak
Foto: Nova Dwi Fitriana, perempuan barista Pontianak (Dok. Istimewa)
Pontianak -

Keinginan Nova Dwi Fitriana untuk menjadi barista ternyata berawal dari alasan yang tak biasa. Saat masih kuliah, ia hanya ingin tetap bisa minum kopi tanpa harus terus mengeluarkan uang. Siapa sangka, niat sederhana itu kini membawanya menjadi Juara 1 Indonesia Brewers Cup (IBrC) Regional 2 2026.

"Aku memang suka ngopi. Terus pengen ngopi tapi gratis," ujar Nova sambil tertawa saat mengenang awal perjalanannya saat berbincang dengan wartawan, Senin (20/7/2026).

Candaan itu kini berubah menjadi kisah inspiratif. Di tengah kuatnya budaya ngopi di Pontianak yang dijuluki Kota 1.000 Warung Kopi, Nova berhasil membuktikan bahwa kota ini bukan hanya melahirkan penikmat kopi, tetapi juga brewer yang mampu bersaing di panggung nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelar juara diraihnya dalam ajang Indonesia Brewers Cup (IBrC) Regional 2 yang berlangsung pada 9-12 Juli 2026 di Nusantara Food & Hotel, ICE BSD. Kompetisi itu mempertemukan brewer terbaik dari berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan menyeduh kopi secara manual sekaligus mempresentasikan filosofi di balik setiap cangkir.

Berawal dari Skripsi, Berakhir di Podium Juara

Nova mengaku hampir setiap hari mengerjakan skripsi di sebuah coffee shop. Secangkir kopi menjadi teman setia menyelesaikan tugas akhir. Namun, kebiasaan itu pelan-pelan menguras isi dompetnya sebagai mahasiswa.

Ketika melihat lowongan barista di Disela Coffee, ia langsung mencoba peruntungan. Bukan karena sudah bercita-cita menjadi profesional, melainkan agar tetap bisa dekat dengan kopi. Keputusan itu justru mengubah jalan hidupnya.

Di balik mesin espresso dan alat seduh manual, Nova mulai memahami bahwa kopi bukan sekadar minuman. Ia belajar mengenali karakter biji kopi, proses pascapanen, teknik roasting hingga detail kecil dalam brewing yang menentukan rasa di setiap cangkir.

Semakin banyak belajar, semakin besar pula rasa penasarannya. Hari-harinya dipenuhi latihan, eksperimen resep, berdiskusi dengan sesama pegiat kopi, hingga mengikuti berbagai kompetisi. Saat namanya diumumkan sebagai juara IBrC Regional 2, Nova mengaku sempat tak percaya.

"Jujur masih nggak nyangka. Rasanya campur aduk, senang, lega, sama terharu. Akhirnya semua proses latihan terbayar," katanya.

Dalam penampilannya, Nova mengusung tema Resilience and Improvement. Ia ingin menunjukkan bahwa secangkir kopi lahir dari proses panjang yang melibatkan banyak orang, mulai dari petani, pengolah, roaster hingga brewer. Menurutnya, filosofi itu juga berlaku dalam kehidupan.

"Jangan takut untuk terus belajar dan berkembang, karena setiap proses pasti bikin kita jadi lebih baik," ujarnya.

Dari Kota 1.000 Warung Kopi ke Panggung Nasional

Bagi Nova, kemenangan ini bukan garis finis. Gelar juara regional menjadi tiket menuju Indonesia Brewers Cup tingkat nasional. Ia kini mempersiapkan diri dengan latihan yang lebih intens, menyempurnakan teknik brewing, memperkuat materi presentasi, sekaligus membangun mental menghadapi persaingan yang lebih ketat.

Prestasi Nova juga menjadi bukti bahwa budaya ngopi di Pontianak terus berkembang. Kota yang dikenal dengan julukan Kota 1.000 Warung Kopi tak hanya melahirkan ruang untuk menikmati kopi, tetapi juga mencetak talenta yang mampu berbicara di level nasional. Dari niat sederhana ingin "ngopi gratis", Nova kini membawa nama Pontianak ke panggung kopi Indonesia.

"Ini adalah sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa mimpi besar terkadang lahir dari alasan yang paling sederhana," tutupnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads