Otorita Catat 55 Titik Karhutla di Sekitar IKN, Upaya Pencegahan Diperkuat

Kalimantan Timur

Otorita Catat 55 Titik Karhutla di Sekitar IKN, Upaya Pencegahan Diperkuat

Ary Nindita Intan RS - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 07:00 WIB
Laporan 173 titik panas atau hotspot terjadi di sekitar kawasan Nusantara. (Dok Humas Otorita Ibu Kota Nusantara)
Foto: Laporan 173 titik panas atau hotspot terjadi di sekitar kawasan Nusantara. (Dok Humas Otorita Ibu Kota Nusantara)
Balikpapan -

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) mencatat 173 titik panas atau hotspot dengan 55 titik kebakaran terjadi di sekitar kawasan Nusantara. Temuan tersebut berdasarkan hasil pemantauan harian hingga 31 Agustus 2026.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengatakan tidak semua titik panas yang terdeteksi merupakan kebakaran. Temuan hotspot itu tersebar di 23 desa dan kelurahan, dengan 55 titik di antaranya teridentifikasi mengalami kebakaran.

"Titik panas tidak selalu berarti kebakaran. Berdasarkan pemantauan harian sampai dengan 31 Agustus 2026 tercatat 173 titik panas yang tersebar di 23 desa dan kelurahan, dengan kejadian kebakaran di 55 titik," ujarnya, Senin (7/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar kebakaran di kawasan Nusantara disebabkan oleh aktivitas manusia. Salah satunya pembakaran secara sengaja seperti yang diduga terjadi di Bukit Tengkorak, Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur (Kaltim).

"Kita melihat sendiri di lokasi ada bekas tebangan. Ada pohon-pohon besar yang ditebang, kemudian area ini dilaporkan sebagai area terbakar. Jadi kuat dugaan bahwa setelah dilakukan penebangan, areal tersebut juga dilakukan pembakaran," kata Myrna.

Menurutnya, kebakaran yang terjadi di lokasi bukan semata-mata merupakan fenomena alam. Penyebab umum lainnya juga teridentifikasi, mulai dari pembakaran sampah, pembuangan puntung rokok, serta swabakar batu bara.

"Sebagian besar kebakaran di kawasan Nusantara terjadi karena aktivitas manusia. Teridentifikasi di lapangan diduga pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah, pembuangan puntung rokok, serta swabakar batu bara," ungkapnya.

Otorita IKN kini memperkuat upaya pencegahan karhutla dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Salah satunya dengan mengenalkan fitur panic button atau tombol darurat di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Fitur tersebut disiapkan sebagai sarana cepat untuk melaporkan kejadian karhutla. Sehingga penanganan kebakaran dapat segera dilakukan.

"Partisipasi masyarakat diperkuat melalui pengenalan fitur panic button khusus di area Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Langkah ini sebagai platform pelaporan kejadian karhutla dalam percepatan penanganannya," ujar Myrna.

Myrna menilai pencegahan yang melibatkan masyarakat merupakan cara paling efektif dalam menekan kejadian karhutla. Untuk itu, pihaknya juga mengusung pelatihan pengolahan lahan tanpa bakar (PLTB) untuk risiko kebakaran.

"Memadamkan api selalu lebih sulit daripada mencegahnya menyala. Karena itu edukasi, penyediaan solusi bagi petani, dan pelaporan cepat dari masyarakat menjadi kunci," pungkasnya.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads