Penganiayaan sadis terjadi di sebuah rumah Desa Dusun Manurung, Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar) pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 04.00 Wita. AR (41), diduga tega menebas istri dan anaknya secara membabi buta karena idap gangguan mental.
Penganiayaan brutal itu membuat istri AR berinisial S (40) tewas, sementara anak perempuannya, H (7) mengalami luka berat. AR diduga menjadi pelaku dan kini masih dalam pengejaran.
"Korban S setelah dilakukan pemeriksaan medis dinyatakan meninggal dunia," ujar Kasat Reskrim Polres Mateng Iptu Muh Arifin dikutip dari detikSulsel, Rabu (3/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelaku melarikan diri dan saat ini masih dalam pengejaran pihak kepolisian serta warga setempat," sambungnya.
Diketahui kejadian berawal saat salah satu anak pelaku inisial SU mendengar orang tuanya bertengkar di ruang tamu.
"Saat keluar kamar, saksi melihat ayahnya memegang sebilah parang sambil terus terlibat cekcok dengan ibunya," kata Arifin.
Saat itu SU panik dan langsung lari ke kediaman pamannya yang tepat berada di samping rumah untuk meminta pertolongan. SU dan pamannya lalu bergegas ke lokasi namun sudah mendapati korban S dalam keadaan tergeletak bersimbah darah.
"SU bersama pamannya mendatangi lokasi kejadian dan mendapati (korban) S sudah tergelatak di halaman depan rumah dalam kondisi bersimbah darah," terangnya.
Di saat bersamaan, saksi mendapati korban H dalam kondisi luka akibat tebasan parang di lengan dan bahu. Saksi SU dan pamannya kemudian bergegas membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Polisi kini masih mengejar pelaku sembari menyelidiki kasus, untuk mengungkap kronologi dan motif penganiayaan. Arifin mengimbau warga tetap tenang dan segera melapor jika mengetahui keberadaan pelaku.
"Tindakan yang dilakukan mengumpulkan barang bukti, membawa korban ke rumah sakit dan meminta keterangan saksi-saksi," terangnya.
Dugaan sementara, AR mengalami gangguan mental. Terduga pelaku disinyalir mengalami gangguan mental akibat praktik ilmu hitam.
"Motif sementara yang diduga memicu tindakan pelaku adalah gangguan mental yang disebabkan oleh praktik mempelajari ilmu hitam," kata Arifin.
Arifin mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus penganiayaan maut tersebut. Kondisi terkini H, anak perempuan AR yang berusia tujuh tahun masih dalam perawatan intensif di rumah sakit akibat luka sabetan parang di lengan dan bahu.
"H mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan," imbuhnya.
(aau/aau)
