Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan

Foto Kalimantan

Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan

Riani Rahayu - detikKalimantan
Senin, 15 Jun 2026 14:30 WIB

Samarinda - Ruang hidup orangutan semakin sempit karena aktivitas manusia. Pemerintah dan akademisi mencari jalan tengah agar ekologi dan ekonomi dapat berjalan seimbang.

Orangutan yang masuk ke wilayah pertambangan di Kutai Timur.

Hampir 70 persen kasus interaksi negatif atau konflik antara manusia dan orang utan di Kalimantan Timur terjadi di Lanskap Keraitan. Kawasan Keraitan seluas 560 ribu hektare kini terbagi-bagi menjadi area pertambangan, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan permukiman.Β Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan

Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)

Fragmentasi dan isolasi populasi memaksa orang utan keluar dari habitat alaminya untuk mencari makan, sehingga mereka sering terlihat menyeberangi jalan atau masuk ke permukiman warga. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)

Proses penyelamatan orangutan yang ditemukan turun ke kawasan tambang di Kutai Timur.

Meski demikian, orang utan terbukti dapat bertahan hidup dan berkembang biak di kantong habitat kecil di tengah aktivitas manusia, asalkan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Orang utan mampu bertahan di lanskap yang telah terbagi-bagi untuk berbagai penggunaan lahan (seperti sawit atau tambang) selama koridor pergerakan dan sumber pakan mereka masih tersedia. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan

Orangutan yang masuk ke wilayah pertambangan di Kutai Timur.

Saat ini dikembangkan konsep Areal Preservasi, yaitu upaya menyatukan berbagai kantong habitat (seperti area HCV di tambang dan sawit) menjadi satu kesatuan lanskap agar populasi orang utan tidak terisolasi dan memiliki peluang bertahan hidup yang lebih besar. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan

Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)

Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan.Β Pemerintah bersama akademisi dan mitra lainnya mengusulkan pembentukan Areal Preservasi seluas 101.005 hektare. Areal preservasi memungkinkan aktivitas ekonomi tetap berjalan selama fungsi ekologis kawasan tersebut tidak hilang. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)

Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan
Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan
Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan
Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan
Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads