Samarinda - Ruang hidup orangutan semakin sempit karena aktivitas manusia. Pemerintah dan akademisi mencari jalan tengah agar ekologi dan ekonomi dapat berjalan seimbang.
Foto Kalimantan
Ruang Sempit di Tengah Tambang & Sawit: Potret Fragmentasi Habitat Orangutan
Hampir 70 persen kasus interaksi negatif atau konflik antara manusia dan orang utan di Kalimantan Timur terjadi di Lanskap Keraitan. Kawasan Keraitan seluas 560 ribu hektare kini terbagi-bagi menjadi area pertambangan, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan permukiman.Β Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Fragmentasi dan isolasi populasi memaksa orang utan keluar dari habitat alaminya untuk mencari makan, sehingga mereka sering terlihat menyeberangi jalan atau masuk ke permukiman warga. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)
Meski demikian, orang utan terbukti dapat bertahan hidup dan berkembang biak di kantong habitat kecil di tengah aktivitas manusia, asalkan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Orang utan mampu bertahan di lanskap yang telah terbagi-bagi untuk berbagai penggunaan lahan (seperti sawit atau tambang) selama koridor pergerakan dan sumber pakan mereka masih tersedia. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Saat ini dikembangkan konsep Areal Preservasi, yaitu upaya menyatukan berbagai kantong habitat (seperti area HCV di tambang dan sawit) menjadi satu kesatuan lanskap agar populasi orang utan tidak terisolasi dan memiliki peluang bertahan hidup yang lebih besar. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan.Β Pemerintah bersama akademisi dan mitra lainnya mengusulkan pembentukan Areal Preservasi seluas 101.005 hektare. Areal preservasi memungkinkan aktivitas ekonomi tetap berjalan selama fungsi ekologis kawasan tersebut tidak hilang. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)
