Krisantus bercerita, saat masih kuliah ia menggunakan Honda Astrea Prima. Motor itu menjadi saksi masa-masa mudanya, mulai berangkat kuliah, berkegiatan, hingga berproses sebagai mahasiswa. Sehingga saat ini ia bernostalgia.
Ia menyebut butuh waktu cukup lama untuk menemukan unit Honda Prima yang sesuai. Setelah mendapatkannya, motor itu direkondisi total. Mesin diperiksa ulang. Suku cadang diganti dengan komponen asli. Hasilnya, menurutnya, seperti mengambil unit baru dari dealer—hanya saja dengan usia hampir empat dekade.
Kini motor itu sudah sekitar dua tahun menemani dirinya. Menurutnya, motor lebih efektif digunakan di tengah padatnya Kota Pontianak, dan bisa lebih dekat dengan masyarakat.
Ia mengaku dalam sehari bisa menghadiri tiga hingga empat agenda di titik berbeda dalam kota. Dengan kondisi lalu lintas yang semakin padat, motor membuatnya lebih fleksibel.
Ada hal lain yang menurutnya tak tergantikan ketika menggunakan motor, yakni interaksi langsung. Masyarakat bisa kenal lebih dekat setelah ada kesempatan untuk bertutur sapa sambil menunggu lampu hijau.