Tugu Digulis di Pontianak adalah monumen bersejarah untuk mengenang sebelas tokoh pergerakan kebangsaan di Kalimantan Barat yang diasingkan ke Boven Digoel, Papua, pada 1 April 1927. Sebelas tokoh tersebut disimbolkan dengan sebelas bambu pada tugu.
Terutama bagi detikers yang tinggal di Kalbar, sebaiknya kalian harus tahu siapa 11 tokoh tersebut dan apa peran mereka dalam pergerakan nasional. Simak sejarah singkat dan profil masing-masing tokoh dalam artikel ini.
Sejarah Singkat
Sebagian besar dari sebelas tokoh tersebut tergabung dalam Sarekat Rakyat (SR) Pontianak. SR adalah sebuah organisasi progresif hasil fusi Sarekat Islam (SI) Merah dengan partai nasionalis National Indische Partij (NIP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengasingan para tokoh ini bermula dari pergerakan mereka yang sangat progresif, anti-feodalisme, dan menolak kooperatif dengan penjajah. Mereka menerbitkan media cetak berslogan tajam seperti Halilintar-Hindia, Warta Borneo, dan Berani.
Aktivis SR Pontianak juga gencar melakukan agitasi dan propaganda untuk menyadarkan rakyat serta mengkritik keras kebijakan kolonial yang menindas, seperti praktik kerja paksa atau heerendienst.
Puncak ketakutan pemerintah kolonial terjadi ketika meletus perlawanan bersenjata PKI di Banten pada November 1926 dan Sumatera Barat pada awal 1927. Meskipun SR Pontianak tidak terbukti memiliki hubungan langsung dengan aksi di wilayah tersebut, pemerintah kolonial menggunakan momentum itu untuk melakukan penumpasan dan penangkapan besar-besaran sebagai langkah preventif.
Aktivis SR Pontianak dianggap telah menghasut pekerja heerendienst di jalur Landak-Pontianak untuk membuat kerusuhan. Selain itu, pemerintah kolonial juga mencurigai adanya persiapan perlawanan fisik setelah mendeteksi rencana penyelundupan persenjataan dari wilayah Sarawak ke Pontianak.
Tanpa diberikan kesempatan membela diri dalam proses pengadilan yang adil, Gubernur Jenderal di Batavia akhirnya menjatuhkan vonis bersalah dan menghukum buang tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pemimpin rakyat yang sangat berbahaya ini ke Boven Digoel.
Profil 11 Tokoh dalam Tugu Digulis
Dari 11 tokoh tersebut, ada tiga yang meninggal di Boven Digoel. Tokoh lainnya sempat pulang dan kembali berjuang. Lima tokoh di antaranya wafat di tangan Jepang dalam Peristiwa Mandor 1944. Sisanya meninggal karena sakit.
Berikut adalah profil dan rekam jejak perjuangan ke-11 tokoh tersebut:
1. Gusti Soeloeng Lelanang
Tokoh terpelajar asal Ngabang ini diasingkan ke Boven Digoel pada usia 26 tahun. Dia turut wafat dalam Peristiwa Mandor.
Sebagai figur intelektual mumpuni lulusan sekolah keguruan Normalschool Batavia dan keturunan asli bangsawan Kesultanan Landak, ia didaulat menjadi ketua utama SR Pontianak. Sikap anti-feodalisme dan anti-kolonialismenya sangat kental.
Dia secara sadar dan tegas menolak tawaran jabatan elit dari pihak kesultanan. Bahkan, ia rela melepas karir gurunya dan beralih berwirausaha dengan mengoperasikan kapal sungai, yang sejatinya digunakan sebagai kedok demi melancarkan mobilitas pergerakan perjuangan ke desa-desa pesisir.
2. Achmad Marzuki
Achmad Marzuki adalah tokoh pergerakan asal Pontianak. Saat diasingkan ke kamp Boven Digoel oleh pemerintah kolonial, ia berusia 30 tahun.
Ia memiliki latar belakang sebagai mantan guru sekolah dan mendedikasikan dirinya untuk memimpin perlawanan kerakyatan dengan menduduki jabatan sebagai ketua Sarekat Rakyat (SR) di Kampung Ilir, Ngabang.
Pada akhir hayatnya, Achmad Marzuki meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga.
3. Achmad Su'ud bin Bilal Achmad
Tokoh intelektual ini berasal dari Ngabang. Dalam dokumen aparat kolonial, ia lebih dikenal dan dicatat dengan nama Mohammad Sood. Dia diasingkan pada usianya yang terbilang muda, yakni 20 tahun.
Berprofesi sebagai guru, peranan dan kedudukannya di dalam organisasi sangatlah vital karena ia menduduki jabatan sebagai sekretaris sekaligus bendahara SR Pontianak. Dia meninggal dalam Peristiwa Mandor.
4. Gusti Djohan Idrus
Gusti Djohan Idrus merupakan tokoh pejuang asal Ngabang yang akhirnya harus wafat di tanah pembuangan Boven Digoel. Ia ditangkap dan turut diasingkan oleh aparat kolonial pada usia 20 tahun.
Walaupun dalam kesehariannya ia berprofesi sebagai seorang petani, Gusti Djohan Idrus memiliki pengaruh kepemimpinan yang luas sehingga ia dipercaya untuk memangku jabatan sebagai wakil ketua di SR Pontianak.
5. Gusti Hamzah
Pejuang asal Ketapang ini wafat sebagai salah satu korban yang dieksekusi dalam Peristiwa Mandor. Saat divonis dibuang ke Digoel, usianya mencapai 31 tahun dan ia diketahui berprofesi sebagai pelayan.
Di dalam tubuh organisasi SR Pontianak, Gusti Hamzah mengemban amanah sebagai komisaris. Ia sempat bertugas mengkoordinasikan pengumpulan derma (sumbangan) massal guna meringankan beban rakyat Wonosobo yang menjadi korban bencana gempa bumi.
6. Gusti Moehammad Situt Machmud
Gusti Moehammad Situt Machmud adalah tokoh dari Ngabang. Ia diasingkan ke Boven Digoel di usia yang ke-29 tahun. Namun dia mengembuskan napas terakhirnya dalam Peristiwa Mandor.
Kesehariannya berprofesi sebagai pekerja buruh, sementara di dalam partai ia merangkap peranan ganda sebagai sekretaris dan propagandis SR Pontianak. Kiprahnya termasuk yang paling ditakuti kolonial karena ia bersifat revolusioner, terbukti dari persiapannya merencanakan perlawanan fisik dengan menyelundupkan persenjataan militer secara diam-diam dari Sarawak.
7. Jeranding Sari Sawang Amasundin
Pejuang yang memiliki nama asli Jeranding Abdurrahman ini berasal dari Melapi, Kapuas Hulu. Diasingkan pada usia 22 tahun, Jeranding meninggal dunia karena sakit di Putussibau.
Jeranding merupakan pimpinan wilayah partai kaum nasionalis bernama Insulinde (NIP), yang memprakarsai fusi terbentuknya SR Pontianak. Dia memiliki latar belakang kental dalam dunia kewartawanan sebagai mantan editor di surat kabar Halilintar dan Berani.
Di SR, jurnalis ini duduk sebagai sekretaris terakhir sebelum diringkus aparat di Putussibau tatkala berupaya memperluas sayap organisasi hingga ke bagian hulu aliran Sungai Kapuas.
8. Haji Rais bin H. Abdurahman
Haji Rais berasal dari daerah Banjarmasin. Ia diasingkan oleh otoritas penjajah di usianya yang teramat muda, yakni 18 tahun. Dia menjadi sosok lain yang turut menjadi korban kekejaman Peristiwa Mandor.
Bekerja sehari-hari sebagai staf penulis di kantor dinas pajak, ia menempati posisi strategis sebagai sekretaris sekaligus bendahara bagi SR Pontianak. Di masa mudanya ia menimba langsung keahlian jurnalistik di surat kabar terkemuka Neratja di Batavia.
Dia dikenal amat kokoh memegang prinsip karena berani menolak bujukan amnesti beserta jabatan tinggi kesultanan dari Sultan Pontianak agar dirinya tunduk.
9. Moehammad Hambal (Bung Tambal)
Tokoh perlawanan gigih dari Ngabang ini harus menyudahi masa hidupnya di tengah derita pengasingan kamp Boven Digoel. Saat aparat menciduk dan mengasingkannya, usianya menginjak 30 tahun.
Walaupun berprofesi sebagai seorang petani akar rumput, ia menorehkan rekam jejak historis yang amat panjang karena telah terlibat merintis berdirinya Sarekat Islam (SI) cabang Ngabang di masa mudanya pada tahun 1914 silam. Setelah pembentukan SR, ia menyumbangkan tenaganya sebagai anggota sekaligus corong propagandis organisasi.
10. Moehammad Sohor
Berasal dari tanah Ngabang, tokoh kerakyatan ini juga gugur di lokasi pembuangan Boven Digoel. Moehammad Sohor diasingkan dan dijatuhi hukuman pada usia 30 tahun.
Kesehariannya berprofesi sebagai seorang petani kecil. Di dalam SR Pontianak, perannya tidak kalah krusial karena ia mendedikasikan langkahnya sebagai anggota dan propagandis, yang menelusuri pedalaman demi menyadarkan kaum tani lainnya akan kebebasan politik.
11. Ya' Moehammad Sabran
Ya' Moehammad Sabran adalah sosok pejuang pergerakan yang berasal dari Ngabang. Setelah pulang dari Boven Digoel, perjuangannya berakhir karena meninggal dunia akibat sakit.
Dalam catatan lain, tidak ada nama Ya' Moehammad Sabran, melainkan Moestava yang kemungkinan adalah orang yang berbeda. Moestava merupakan mantan administrator dan editor Halilintar, serta menjabat bendahara SR Pontianak.
Sumber:
- Artikel Berapa Jumlah Bambu yang Ada Di Tugu Digulist? dalam situs Diskominfo Pontianak.
- Eksistensi sarekat rakyat Pontianak, 1924-1926 dalam Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya Vol. 15, No. 1, Januari 2025, oleh Mohammad Rikaz Prabowo dari Universitas Tanjungpura.
