Sorot Panji Petualang soal Masih Sulitnya Dapat Serum Anti Bisa Ular

Sorot Panji Petualang soal Masih Sulitnya Dapat Serum Anti Bisa Ular

Riani Rahayu - detikKalimantan
Rabu, 01 Apr 2026 07:00 WIB
Anaconda biasa (Eunectes murinus) di Tierpark Hellabrunn, Munich, Jerman.
Foto: Diego Delso via Wikimedia Commons
Samarinda -

Kasus relawan digigit ular di Samarinda kembali terjadi. Kali ini kreator konten Panji Petualang ikut menyoroti kasusnya, mengingat masih sulitnya akses Serum Anti Bisa Ular (SABU) di layanan kesehatan.

Ketua Info Taruna Samarinda, Joko Iswanto, mengungkapkan kasus bermula pada Sabtu (28/3/2026) saat relawan menangani ular kobra hitam di dalam rumah warga. Saat proses evakuasi, relawan justru tergigit setelah bagian ekor ular terjepit, sementara kepala ular masih bebas bergerak.

"Awalnya pada 28 Maret, relawan mendapatkan informasi adanya ular kobra hitam berada di dalam rumah. Relawan ini kemudian mendatangi lokasi dan melakukan penanganan, dilengkapi alat yang sesuai. Namun pada saat menangkap ular, ekornya saja yang terjepit tongkat. Kepala ular langsung bergerak menggigit tangan relawan," ujarnya, Selasa (31/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Relawan Samarinda terkena gigitan ular kobra saat melakukan proses evakuasi. (Istimewa)Relawan Samarinda terkena gigitan ular kobra saat melakukan proses evakuasi. (Istimewa)

Ia menyebut korban sempat dibawa ke rumah sakit, namun fasilitas kesehatan tersebut tidak memiliki SABU. Meski jenis ular sudah diketahui melalui dokumentasi, proses pemberian antivenom harus menunggu izin dari Kementerian Kesehatan.

"Rumah sakit bersedia meracik serum anti bisa itu namun harus menunggu izin dari kementerian kesehatan. Sehingga relawan yang menjadi korban sampai harus mendapatkan perawatan intensif," katanya.

Padahal dalam dua hari berturut-turut, tercatat dua korban akibat insiden ular. Selain relawan, satu warga juga terdampak setelah terkena semburan bisa kobra.

Pawang ular sekaligus YouTuber, Panji Petualang kemudian menyoroti kasus tersebut. Kepada detikKalimantan, ia mengungkap penanganan gigitan ular yang membutuhkan respons cepat karena adanya golden period untuk penentu keselamatan korban.

"Sudah seharusnya Damkar atau lembaga pemerintahan sejenis dilengkapi dengan first aid yang berisi serum anti bisa ular. Pengalaman saya di Samarinda, penanganan gigitan ular sangat lambat. Padahal ada golden period untuk menyelamatkan korban gigitan ular. Jika terlambat akan sangat fatal," ujarnya.

Panji menyoroti adanya hambatan birokrasi dalam mengakses SABU meski stok tersedia di gudang farmasi. Ia menilai kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan korban.

"Dari kasus di Samarinda, ada birokrasi yang panjang hanya untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU). Padahal penanganan gigitan ular perlu cepat. Saat relawan di Samarinda menjadi korban, rumah sakit harus mendapatkan izin dari kementerian kesehatan untuk mengakses SABU. Barangnya tersedia di gudang farmasi," lanjutnya.

panji petualangKreator konten Panji Petualang dan ular miliknya. Foto: Instagram @panjipetualang_real

Panji menambahkan, kondisi korban yang sudah mengalami gejala seperti mual menandakan fase sistemik, sehingga membutuhkan penanganan segera. Maka sangat disayangkan saat ketersediaan antivenom sebenarnya sudah ada, namun di lapangan masih terkendala kecepatan akses.

"Ketika korban alami mual saja, kondisi ini sudah masuk fase sistemik, mual itu tandanya bisa ular sudah menyebar ke seluruh tubuh. Kita tidak bisa tunggu lagi, korban harus segera dapat antibisa saat itu juga sebelum organ vital terdampak," tuturnya.

"Penanganan gigitan ular berbisa itu sangat bergantung pada kecepatan, terutama saat pasien sudah menunjukkan gejala sistemik. Dalam kondisi seperti itu, setiap menit sangat menentukan keselamatan. Jadi, kami melihat bahwa secara sistem, ketersediaan antivenom sebenarnya sudah ada," sambung Panji.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait pertolongan pertama yang benar agar kondisi korban tidak semakin memburuk. Di samping itu, Panji berharap penanganan gigitan ular di fasilitas kesehatan bisa dioptimalkan.

"Khususnya terkait first aid yang benar agar kondisi pasien tidak semakin memburuk sebelum sampai ke fasilitas kesehatan. Pada akhirnya tujuan kita itu sama, yaitu memastikan setiap korban gigitan ular mendapat penanganan yang cepat, tepat, dan bisa menyelamatkan nyawa," jelasnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads