Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Kota Samarinda, Rica Rahim, melaporkan pemilik sebuah akun media sosial yang menampilkan konten disabilitas. Rica menyayangkan konten yang diunggah tersebut karena seolah-olah menjadikan disabilitas sebagai lelucon.
Rica mengaku sengaja membawa permasalahan ini ke polisi dengan harapan memberi efek jera kepada pelakunya. Sebab, dia menilai tidak ada itikad baik dari pemilik akun untuk menurunkan konten yang menyinggung tersebut.
"Kasus ini saya lanjutkan karena saya juga punya tanggung jawab sebagai ketua perkumpulan penyandang disabilitas. Ini harus jadi pembelajaran dan efek edukasi bagi masyarakat," ujar Rica kepada detikKalimantan, Sabtu (7/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat Minta Konten Diturunkan
Rica menuturkan awalnya yang menemukan konten tersebut adalah anaknya. Dalam video, tampak seorang disabilitas mengendarai motor direkam diam-diam dari belakang.
"Awalnya anak saya yang dapat videonya. Videonya itu diambil dari belakang, dan saya juga mengenali siapa orang di dalam video tersebut," tuturnya.
Anak Rica sempat menghubungi pemilik akun melalui pesan pribadi. Ia meminta agar video tersebut diturunkan. Meski sempat ada respons, ternyata video tak kunjung dihapus. Malah kemudian akun anak Rica diblokir.
"Anak saya minta supaya videonya di-take down, tapi malah di-block. Akhirnya saya yang masuk lewat kolom komentar, karena kalau lewat inbox saya juga pasti diblokir," ceritanya.
Konten Disematkan karena FYP
Rica mengaku komentarnya tidak digubris oleh pemilik akun. Rica semakin kecewa karena ternyata konten disabilitas dengan backsound lucu-lucuan itu disematkan di atas.
"Saya sudah membuka peluang untuk klarifikasi dan permohonan maaf, tapi tidak ada respons sama sekali. Bahkan konten itu justru disematkan karena sudah masuk FYP," jelasnya.
Kemudian, pemilik akun sempat menghubungi Rica. Namun, menurut Rica, masih tidak ada itikad baik dalam pesan pemilik akun tersebut.
"Dia cuma bertanya, 'Ibu maunya apa?' Itu bikin saya syok, karena tidak ada rasa bersalah sama sekali. Seolah-olah apa yang dia lakukan tidak berdampak apa-apa," keluhnya.
Sesalkan Tak Ada Permintaan Maaf
Rica mengatakan pihak pemilik akun kemudian membuat klarifikasi. Namun, Rica menilai masalahnya belum selesai karena klarifikasi yang bersangkutan terkesan tidak mencerminkan penyesalan.
"Klarifikasinya seperti anak sekolah. Itu justru bikin saya makin marah," ucapnya.
Rica sempat menunggu dua hingga tiga hari, sebelum akhirnya dia memutuskan membawa masalah ini ke jalur hukum. Selama jeda waktu itu, Rica juga mengatakan tidak ada permintaan maaf pelaku.
"Sampai laporan masuk ke Polresta, tidak ada permintaan maaf. Yang ada hanya bertanya maunya apa," ujarnya.
Tetap Pilih Jalur Hukum Meski Ada Kesempatan Mediasi
Setelah laporan diterima Polresta Samarinda, Rica dan anaknya dijadwalkan menjalani pemeriksaan lanjutan di Unit PPA. Rica juga telah mendapatkan pendampingan asesmen psikologis dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Samarinda.
Rica menegaskan, meski ke depan memungkinkan adanya mediasi, ia tetap akan memilih agar proses hukum terus berjalan.
"Proses hukum sudah masuk, jadi biar berproses. Ini bukan hanya soal saya, tapi supaya tidak ada lagi orang lain yang mengalami hal serupa," tegas Rica.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Kasi Humas ke Polresta Samarinda Ipda Arie Soeharyadi membenarkan adanya laporan tersebut. Saat ini proses pemeriksaan tengah berjalan.
"Laporan sudah diterima, dan pelapor sudah diminta keterangan oleh penyidik," ujar Arie.
Simak Video "Video: Pemerkosa Gadis Disabilitas di Mamuju Ditangkap Usai Sembunyi di Hutan"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
