Aksi Gilbert Christian (13), siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara menuai perhatian publik. Videonya saat melakukan orasi menuntut perbaikan jalan tanpa mengenakan alas kaki viral di media sosial.
Kepada detikKalimantan, Gilbert menceritakan alasannya menyuarakan lebih memilih perbaikan jalan daripada program MBG yang ia orasikan. Ia mengatakan kondisi jalan yang rusak parah di Krayan Timur, khususnya saat musim hujan, menjadi momok bagi para siswa.
Meski ia tinggal di Desa Long Umung yang relatif dekat dengan sekolah, ia menyaksikan teman-temannya dari desa tetangga, seperti Pa' Betung, harus menempuh perjalanan berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau musim hujan, jalanan itu kotor banyak lumpurnya. Teman-teman datang ke sekolah pasti kotor. Ada yang sepatunya full lumpur, ada yang bajunya kena lumpur, bahkan pernah ada yang badannya penuh lumpur karena motornya jatuh," cerita Gilbert kepada detikKalimantan, Rabu (4/2/2026).
Sebelumnya diberitakan, dalam video viral terlihat Gilbert berdiri di ruas jalan antara Pa' Kebuan dan Long Umung. Kondisi jalan terlihat becek dan berlubang dalam, memaksa Gilbert melepas sepatunya agar bisa berdiri stabil saat berorasi. Aksi itu didampingi belasan warga Krayan Timur yang mengenakan atribut adat Dayak Lundayeh.
Menurut Gilbert, kondisi jalan yang buruk membuat waktu tempuh menjadi dua kali lipat lebih lama. Jika biasanya teman-temannya berangkat pukul 06.00 Wita dan tiba pukul 07.00 Wita, saat hujan mereka baru bisa tiba di sekolah sekitar pukul 08.00 Wita.
"Kadang saya kasihan melihat mereka. Sepatunya sudah tidak bisa dipakai masuk kelas. Ada yang malu karena badannya penuh lumpur sampai akhirnya tidak jadi masuk kelas," tuturnya.
Menurut Gilbert, prioritas utama pelajar di Krayan saat ini adalah infrastruktur. Menurutnya, akses jalan yang layak jauh lebih mendesak dibandingkan bantuan makan gratis.
"Padahal kami juga mau makanan bergizi gratis, tapi kami lebih memilih jalan. Karena kalau mau ke sekolah kita perlu jalan yang bagus dan akses cepat. Sementara kalau dapat makanan gratis, kita tetap harus ke sekolah dulu (lewat jalan rusak)," ungkap Gilbert.
Ia menambahkan bahwa sumber makanan di Krayan sebenarnya cukup melimpah dan orang tua siswa sudah membekali mereka dengan sarapan yang cukup. Namun, fasilitas sekolah seperti buku perpustakaan yang rusak dan akses internet yang minim masih menjadi kendala besar.
"Saya mau Krayan itu maju, dipandang baik. Selama ini kan daerah pedalaman jarang dilihat dan didengar. Harapan saya terutama Krayan Timur supaya jalan dan fasilitasnya dibangun," harap Gilbert.
(aau/aau)
