Palangka Raya mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) paling banyak di awal Januari 2026. Badan Penanggulangan Bencana dan Penanggulangan Kebakaran (BPB-PK) Kalteng mengungkap alasannya.
Berdasarkan data PB Pusdalops Kalteng, mulai 1-18 Januari 2026 terjadi 17 karhutla di Kalteng. Di mana 11 karhutla di antaranya di Kota Palangka Raya. Sementara itu, kota lainnya yakni Gunung Mas, Kotawaringin Timur, Lamandau dan Sukamara mengalami satu kejadian, serta Barito Utara dua kejadian.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPB-PK Kalteng Indra Wiratama menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat Palangka Raya rawan karhutla. Salah satunya, sifat tanah di Palangka Raya yang relatif kering sehingga mudah terbakar ketika ada pemicunya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ada 3 Titik Api Karhutla di Kubu Raya |
"Harus kita akui bahwa kecenderungan sifat tanah di Kota Palangka Raya relatif sangat kering dan mudah terbakar apabila tidak ada hujan beberapa hari dibanding daerah lainnya," ujar Indra kepada detikKalimantan, Selasa (20/1/2026).
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi pemicu utama terjadinya kebakaran. Seperti faktor El Nino yang lemah.
"Faktor El Nino lemah juga terjadi belakangan ini," imbuhnya.
Berdasarkan data dari BMKG pada Januari 2026 Dasarian I, wilayah Kalteng secara umum mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan Kategori Masih Ada Hujan di beberapa titik wilayah.
Beberapa wilayah di Kota Palangka Raya yang telah terjadi karhutla antara lain di Kelurahan Petuk Ketimpun, Jalan Petuk Ketimpun pada Jumat (16/1). Luas area yang terbakar 0,11 hektare. Kemudian di Kelurahan Bukit Tunggal, Jalan Hiu Putih pada Sabtu (17/01). Luas area yang terbakar kurang 1,61 hektare.
Indra menerangkan BPB-PK Kalteng selalu melakukan koordinasi dan diseminasi kepada BPBD daerah untuk mitigasi potensi terjadinya bencana. Seperti penyampaian peringatan dini di wilayah yang mudah mengalami kebakaran.
"BPB-PK Provinsi Kalteng selalu melakukan koordinasi dan diseminasi kepada BPBD Kabupaten/Kota terkait potensi terjadinya bencana, terutama penyampaian peringatan dini bencana, kemudahan terbakar dan prakiraan cuaca dari BMKG," terangnya.
Selain itu, pihaknya juga telah mengaktifkan posko bencana setiap 1 kali 24 jam untuk penanganan berbagai macam laporan kejadian bencana. Serta pengecekan hotspot dan penanganan secara langsung maupun tidak langsung terkait terjadinya karhutla.
"Kami juga melakukan pemasangan alat Early Warning System (EWS) di sejumlah daerah rawan bencana," pungkasnya.
(sun/des)
