Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyebut Indonesia kini telah memiliki 12 ribu profesor. Brian menegaskan para profesor menjadi ujung tombak pengembangan ilmu pengetahuan hingga teknologi.
Hal itu diungkapkan Brian dalam Seminar dan Rapat Kerja Forum Dewan Guru Besar se-Indonesia di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Gedung UMY Student Dormitory, Kasihan, Bantul, Jumat (13/2/2026). Brian menyebut sebelumnya profesor di Indonesia sebanyak 4 ribu orang yang kini telah menjadi 12 ribu orang.
"Saya bilang betul, mereka menjadi ujung tombak pengembangan pengetahuan, pengembangan teknologi, inovasi," kata Brian saat sesi pemaparan materi seminar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Brian turut mengingatkan produktivitas riset yang nyata harus mengiringi gelar guru besar. Seperti halnya di luar negeri yang mana profesor dituntut untuk aktif dalam menghasilkan publikasi berkualitas dan riset.
"Produk yang kuat, produk teknologi yang kuat itu lahir dari riset yang kuat. Semakin kuat riset, semakin besar peluang kita menghasilkan produk yang bagus juga," jelasnya.
Lebih lanjut, Brian menegaskan Indonesia tidak sepatutnya untuk pesimistis lantaran kondisi saat ini. Dia mencontohkan Korea dan Jepang pernah mengalami kondisi serupa dan akhirnya dapat menjadi negara maju.
"Tapi saya selalu pelajari, dulu negara-negara yang maju itu sempat juga mengalami seperti kita. Sempat juga Korea, Jepang sekarang 60.000 US Dollar pendapatan per tahun per kapita, itu sempat juga mengalami seperti kita yang besarnya 5.400 (US Dollar). Kalau mereka bisa, kita juga harus bisa," tegasnya.
Brian mengatakan Presiden Prabowo Subianto berharap besar agar Indonesia dapat maju melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
"Pemerintah Indonesia, Bapak Presiden (Prabowo Subianto) selalu menyampaikan harapan yang sangat besar karena memang bangsa kita bisa keluar (maju) kalau peran ilmu pengetahuan dan teknologi ini menjadi signifikan," ucapnya.
Di sisi lain, Brian menyoroti akan pentingnya industri dalam berkontribusi terhadap pendanaan riset. Dia membandingkan hampir 70 persen pendanaan riset di Turki berasal dari sektor swasta, sementara di Indonesia masih di bawah 10 persen.
"Industri kita harus memproduksi sesuatu, bukan sekadar trading. Karena begitu dia produce something, dia butuh riset. Ketika dia butuh riset, ekosistem riset akan naik," tegasnya.
Brian juga menyampaikan pesan reflektif tentang makna menjadi ilmuwan di hadapan para guru besar. Dia menegaskan, akademisi tidak hanya mengejar penghargaan maupun popularitas, tetapi juga berkontribusi bagi kemanusiaan.
"Jangan pernah mengejar reward, jangan pernah mengejar fame. Orang-orang besar itu tujuannya berkontribusi untuk kemanusiaan," tuturnya.
(aku/ams)












































Komentar Terbanyak
Fakta-fakta Anggota Joxzin Dibunuh Saat Tidur Bersama Anak-Istri di Bantul
Perjalanan Eks Kapolresta Sleman Didemosi Buntut Gaduh Kasus Hogi Minaya
Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran, Ini Sosoknya